Webinar PERSI: Lawan Covid-19 dengan Sebarkan Informasi Positif di Lingkup Internal RS dan Publik

webinar humas180420

webinar humas180420

Kalangan perumahsakitan, tenaga medis dan masyarakat harus saling membangun komunikasi positif untuk membangkitkan sinergi membendung Covid-19. Selain dalam konteks eksternal, yang mengarah pada publik, pesan saling menguatkan dan membantu itu juga harus diimplementasikan dalam lingkup internal, antar manajemen, tenaga medis hingga komunitas masyarakat.

Demikian terungkap dalam Webinar Membangun Komunikasi Publik Rumah Sakit di tengah wabah Covid-19 yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) yang diselenggarakan hari ini, Sabtu (18/4). Narasumber yang dihadirkan, konsultan komunikasi sekaligus motivator Dr. Aqua Dwipayana yang membawakan materi Strategi komunikasi RS menghadapi Covid-19 serta Ismail Fahmi, PhD pakar big data pendiri aplikasi Drone Emprit yang mengupas tema Analisis isu publik dan Covid-19 terhadap Rumah Sakit. Sementara, yang menjadi pembahas adalah Direktur Utama RSPI Sulianti Saroso dr. Mohammad Syahril, Sp.P MPH serta Kepala Bagian Hukum & Humas, RSUP Sardjito Banu Hermawan, SH. MH.

Ismail menuturkan, berdasarkan analisa Drone Emprit, pembicaraan yang terjadi dalam media sosial pada masa pandemi Covid-19 mengarah pada nada positif dan berpihak pada RS dan tenaga kesehatan, baik di sisi pendukung maupun kritis pada pemerintah. Konkretnya, ketika ada masalah yang terjadi di RS, misalnya kekurangan alat pelindung diri (APD), maka pihak yang mengkritisi pemerintah, berupaya juga ikut menawarkan solusi.

“Namun, berdasarkan amatan kami, yang lebih banyak mendapat amplifikasi adalah ketika misalnya ada keluhan soal minimnya alat pelindung diri (APD) dari tenaga kesehatan di Belitung, penjelasan diberikan secar komprehensif dan objektif disertai data yang jelas. Tak lama, ujaran di media sosial itu mendapat respon positif berupa datangnya donasi dari berbagai pihak,” ujar Ismail.

Hal senada juga diungkapkan Aqua yang menekankan, dengan kondisi saat ini sudah bukan waktunya lagi saling menyalahkan, upaya mencegah dan mengobati memerlukan semangat kebersamaan. Kalangan perumahsakitan disarankan untuk memperhatikan aspek komunikasi ini sebagai kegiatan yang sangat berpengaruh pada efektifitas pelayanan.

“Wujud paling konretnya, bentuk tim yang solid yang fokus pada manajemen krisis ini, lalu aplikasikan teknik komunikasi yang efektif, misalnya pukul tujuh pagi berdasarkan riset adalah waktu ideal ketika ingin menyampaikan informasi, termasuk lewat media sosial. Tak kalah penting, sosialisasikan teknik komunikasi pada seluruh tim, bahwa yang harus disampaikan pada pasien adalah harapan dan RS adalah lokasi terbaik bagi mereka untuk mendapatkan kesembuhan. Kondisi speerti itu yang kita harapkan bisa membantu meningkatkan imun pasien,” ujar Aqua yang juga menekankan, teknik komunikasi yang baik dari RS juga akan menghasilkan kepercayaan dan mencegah kecenderungan sebagain masyarakat yang menyembunyikan keluhan Covid-19 yang berisiko tinggi pada lingkungannya.

Aqua mengaku sangat mengapreasi teknik komunikasi yang dilakukan oleh beberapa RS, termasuk RS Pusat Infeksi Sulianto Saroso Jakarta yang rutin memberitakan Covid-19 dengan sudut pandang kesembuhan, menonjolkan hal-hal positif yang terjadi. “Jika informasi itu yang memenuhi ruang publik, termasuk yang dikabarkan oleh PERSI dan anggotanya yang berjumlah lebih dari 2.000, maka upaya Indonesia melawan Covid-19 lebih efektif,” ujar Aqua.
Kendati begitu, Ismail mengingatkan, informasi positif itu harus tetap mengedepankan detil dan data yang diolah secara hati-hati. Kejelasan data itu pula yang akan membantu masyarakat yang kini ramai berdonasi untuk bisa berkontribusi secara lebih terarah. “Karena wilingness yang luar biasa ini belum diimbangi informasi yang jelas, sehingga publik ramai-ramai mencari sendiri APD. Publik mengira-ngira sendiri apa yang dibutuhkan, ini yang masih harus terus diperbaiki.” (IZn – persi.or.id)