Webinar PERSI: Kupas Penambahan Laboratorium Hingga Maraknya Promosi Tes Cepat

webinar lab120420

webinar lab120420

Pemerintah telah menyiapkan 52 laboratorium penguji Covid-19 untuk mempercepat proses pengujian. Penambahan jumlah laboratorium itu sesuai dengan Surat Edaran Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/234/2020 yang juga selain melibatkan laboratorium milik Kementrian Kesehatan, juga mengikutsertakan laboratorium rumah sakit (RS) pemerintah dan swasta serta klinik mikrobiologi pemerintah dan swasta.

“Persyaratannya adalah peralatan, serta memenuhi biosafety level 2, mempunyai cabinet yang sesuai syarat serta SDM yang memiliki kompetensi yang biasa mengerjakan pengujian infeksius. Untuk system pelaporan, 52 laboratorium itu sudah memiliki akses ke sistem pelaporan yang sudah kami kembangkan,” ujar Kepala Litbangkes Siswanto dalam Webinar Strategi Percepatan Diagnostik Laboratorium Covid 19 di Indonesia yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) hari ini, Minggu (12/4).

Penambahan jumlah laboratorium itu, kata Siswanto, dipicu oleh perkembangan kasus Covid-19 di daerah. Walaupun ia mengakui hingga kini keinginan untuk mempercepat pengujian masih terkendala oleh datangnya reagen PCR yang menyebabkan stok menipis dan diperkirakan baru akan dating pada 22 April mendatang.

Terkait peningkatan kasus di daerah serta menimpisnya stok reagen, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik (PDS PatKLIn) Prof., Dr. ARYATI dr., M.S., Sp.PK.(K) menyarankan agar pihak RS bisa juga menggunakan perangkat penguji lainnya yang tersedia dan telah digunakan di luar negeri, termasuk China, ynag terbukti efektif.

webinar lab12042020

“Yaitu menggunakan tes darah lengkap, ronsen atau bahkan mungkin CT-Scan, untuk mencegah false negative yang dihasilkan oleh rapid test. Saya sudah melakukannya pada pasien perempuan 35 tahun yang rutin kami cek dan terus menunjukkan haisl laboratorium yang membaik dari hari kehari menggunakan tes darah lengkap. Tentu saja kondisi ini juga memerlukan komfirmasi dari pihak Kementrian Kesehatan, walaupun secara realita telah sangat menolong,” ujar Aryati.

Sementara, terkait meraknya promosi tes cepat, termasuk di media sosial, Aryati juga mengingatkan pentingnya Kementrian Kesehatan untuk mencermati hal ini, terutama untuk mengantisipasi hasil negative palsu. Sehingga, diperlukan tata kelola baik dalam promosi maupun sistem pelaporan, termasuk inform concent yang mewajibkan pasien untuk bersedia dites kembali kendtai hasilnya negatif.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti yang menyatakan, pihaknya juga turut mewaspadai praktik tes cepat tersebut, terutama untuk keperluan penelusuran kasus. “Namun, kami sendiri juga mengandalkan tes cepat ini untuk mengatasi keterbatasan reagen.” (IZn – persi.or.id)