Webinar PERSI: Kumur Antiseptik Mampu Basmi Virus Corona, Bisa Diterapkan pada Tenaga Kesehatan dan Pasien

webinar antiseptik160520

webinar antiseptik160520

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) hari ini, Sabtu (16/5) menyelenggarakan Webinar Rekomendasi penggunaan Antiseptic Povidene-Iodine untuk Melindungi Tenaga Kesehatandari Infeksi Silang Covid-19 di RS.

Ketua Umum PERSI dr.Kuntjoro Adi Purjanto M.Kes menyatakan dalam dunia perumahsakitan terdapat tujuh dimensi mutu, di antaranya efektif yang mensyaratkan pengobatan yang didasarkan bukti atau evidence based-medicine, safety atau keamanan bagi dokter, tenaga kesehatan serta pasien serta pelayanan terpusat pada manusia atau people centered-care.

Selanjutnya, kata Kuntjoro, terdapat dimensi waktu yang menekankan pentingnya tindakan yang cepat untuk tidak melewatkan periode emas, adil atau tidak pandang bulu, dimensi integrasi atau mencari upaya apa pun untuk yang saling menunjang efektivitas pengobatan serta dimensi efisiensi yang akan berpengaruh pada besaran biaya di RS.

covid19 icon

“Pada dimensi people centered-care serta integrasi inilah harus dilakukan kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan pihak swasta seperti yang terselenggara pada Webinar kali ini yang didukung oleh Mudhiparma . Semua pihak harus berkontribusi untuk mengatasi kondisi rumah sakit (RS) yang kini sangat bergejolak agar bangsa ini bisa cepat keluar dari Covid-19, termasuk dengan melakukan berbagai langkah mitigasi,” ujar Kuntjoro.

Pakar Bidang Intensive Care RS Sutomo, Surabaya Dr.dr. Bambang Wahyu Prayitno Sp.An,KIC dalam paparannya yang berjudul “Rekomendasi Prosedur untuk Mempertahankan Higiene Rumah Sakit Selama Pandemi Covid-19: Meminimalisasi Potensi Infeksi Silang” menyatakan, pada hal-hal dasar tentang Covid-19 yang sudah berhasil diidentifikasi ditemukan terdapat dua jenis tipe yaitu tipe L atau Low serta H atau High.

Bambang menjelaskan, pada pasien tipe L, kendati telah terkonfirmasi positif Covid-19, kondisi paru-parunya masih lunak, sama sekali tidak mengalami gangguan nafas, konsentrasi oksigen masih 95%, mendekati kondisi normal yang berkisar 96-98% . Sementara, pada tipe H, konsentrasi oksigen bisa berkurang hingga hanya mencapai 20%-30%, paru-paru telah kenyal dan kaku serta terdapat penumpukkan cairan dan aerasinya sudah sangat sedikit. Kondisi itu menimbulkan risiko jika pasien diberikan ventilator yang justru bisa mendatangkan masalah jika tidak diawasi dengan baik.

“Pada kasus yang kami temui di RS Sutomo, pada pasien tipe L ini, jika tidak dipantau dengan baik, maka berisiko pada terjadinya gangguan yang segera terjadi sehingga menimbulkan edema paru ketika pasien tiba-tiba mengalami kesulitan bernafas. Kita perlu memperhatikan secara khusus pada pasien tipe L ini karena mereka yang kita sebut happy hipoksia karena pasien jarang mengeluh namun pada saat yang sama, paru-parunya kemudian bisa bermasalah hingga akhirnya mengalami hipoksia. Transisinya adalah nafas makin kuat sehingga menimbulkan tekanan pada toraks dan memicu edema. Ketika pasien kemudian masuk ICU, pasien sudah berada dalam kondisi respitory failure,” ujar Bambang.

mekanisme kerja pvpi

Kondisi tersebut, juga belum ditemukannya pengobatan standard bagi Covid-19 itu, kata Bambang memicu urgensi tindakan preventif untuk meminimalisir risiko, termasuk dengan memberikan antiseptic untuk menjaga kebersihan oral baik pada mereka yang belum tertular maupun pasien Covid-19 untuk mengurangi jumlah virus atau viral load. “Terapi kumur berdasarkan riset, jika dilakukan rutin, dapat mengurangi kemungkinan virus Covid-19 ini masuk organ tubuh lainnya seperti jantung, ginjal dan paru-paru sekaligus berpotensi mengurangi kemungkinan penularan pada orang lain,” ujar Bambang.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Satgas Covid-19 PB PDGI Prof.Drg. Rahmi Amtha, MDS. Sp.PM PhD yang membawakan paparan Pentingnya Higiene Oral untuk Mengendalikan Infeksi dengan PVP-1 Gargle Selama Wabah Covid-19. Rahmi mengungkapkan, kandungan antiseptik yang tepat terbukti bisa mengurangi viral load pada pasien coronavirus hingga 99%. Antiseptic juga dapat digunakan oleh petugas kesehatan, terutama dokter gigi, yang banyak berinteraksi dengan pasien untuk mengurangi risiko penularan. (IZn – persi.or.id)