Webinar PERSI: Kerja Keras DKI Sebagai Episentrum Covid-19, Operasikan Lab Kontainer Hingga Berdayakan Puskesmas Pantau Pasien

labcontainer

labcontainer

Mulai 7 April lalu Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah mengoperasikan Lab Kontainer Bio Safety Level (BSL) II + di area RSUD Pasar Minggu yang bekerja 24 jam untuk mengolah sampel dari Labkesda pusat.

Demikian diungkapkan Widyastuti, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam Webinar yang digelar Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), kemarin, Minggu (12/4).

Dalam paparannya yang berjudul Upaya Peningkatan Kapasitas Pemeriksaan Covid-19 di Provinsi DKI Jakarta itu menuturkan upaya percepatan itu dilakukan untuk mengimbangi peningkatan kasus yang terjadi hari demi hari yang dapat dipantau melalui www.corona.Jakarta.go.id.

Kendati begitu, berbagai upaya itu masih menghadapi tantangan keterbatasan jumlah SDM yang kompeten untuk melakukan ekstraksi & RT PCR. Guna mengatasinya, DKI telah menambah relawan, di antaranya di Labkesda telah menambah 20 relawan dan masih menerima. Selain itu, DKI juga berupaya melakukan pelatihan, pendampingan dan kesiapan mengatasi kekuatiran terpapar virus dengan praktek Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) yang baik.

Selain itu, juga terdapat risiko PCR Kit jumlahnya kia terbatas dan telah dipesan dan dibayar namun masih menunggu pengiriman karena produk yang terbatas dan dibutuhkan mendesak di seluruh dunia. Kondisi serupa juga terjadi pada Reagen ekstraksi. “Untuk masalah ini tentunya diperlukan intervensi dari pemerintah pusat karena untuk produk ini Indonesia bertarung dengan seluruh dunia yang juga tengah membutuhkan.”

Sementara untuk jumlah mesin RT-PCR yang terbatas, pemerintah DKI telah berupaya mengatasi dengan membeli menggunakan i sumber APBD.

Namun nyatanya, lanjut Widyastuti, kecepatan uji lab kalah dibandingkan dengan jumlah sampel yang diterima karena kecepatan ekstraksi kurang, terhambat minimnya sarana pendukung. Di tengah keterbatasan itu, Dinkes DKI tetap mengacu pada SOP ekstraksi dan PCR WHO/CDC atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat.

Terkait kapasitas Lab, Widyastuti merinci, sejak 16 Maret, kasus di DKI diperiksa di Labkesda, BBTKL, Lab Eijkman, Lab RS UI dan Lab RSCM.

Selanjutnya, pada 26 Maret, DKI telah melakukan penambahan Lab Mikrobiologi UI yang mengolah sampel dari RS, Dinkes, Lab lain. Hasilnya kemudian diinformasikan ke Litbang, Faskes perujuk, Dinkes.Pemeriksaan tidak berbayar dan menggunakan pembiayaan oleh APBN/APBD/Sumber lain.

Berikutnya, pada 7 April, DKI telah meminta izin pada Lab RS Pemerintah/BUMN/TNI/POLRI, Lab Klinik Pemerintah/Swasta, Lab Virologi / Bakteriologi Kementerian/Lembaga, Lab Riset PT yang memenuhi persyaratan Biosafety/biosecurity/uji RT PCR sesuai WHO.

Berbagai upaya itu, kata Widyastuti, ditempuh DKI untuk menggunakan hasil uji selain untuk penanganan pasien, juga pelacakan kontak. Setiap hasil Lab akan ditindaklanjuti Puskesmas yang melakukan pemantauan pada pasien positif dengan gejala ringan dan diisolasi di rumah melalui Whatsapp hingga pasien dinyatakan sembuh. (IZn – persi.or.id)