Webinar PERSI: Kemenkes Izinkan RS Ajukan SAS untuk Atasi Kelangkaan Obat Covid-19

Rumah Sakit (RS) diperbolehkan mengajukan Special Access Scheme (SAS) guna memenuhi kebutuhan obat-obat Covid-19 yang saat ini sudah menipis. Panduan tentang prosedur SAS itu disosialisasikan dalam Zoom yang disiarkan langsung melalui YouTube oleh Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Pertemuan virtual ini juga menghadirkan kalangan produsen dan distributor farmasi yang memaparkan tentang kondisi persediaan dan antisipasi yang dilakukan terkait sejumlah obat Covid-19 yang menipis persediaannya. Pertemuan itu dilakukan hari ini, Senin (19/7) .

Plt. Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat kesehatan Kemenkes drg. Arianti Anaya, MKM menyatakan bahwa pihaknya telah membuka SAS bagi kalangan perumahsakitan dan industri farmasi untuk mengatasi kelangkaan sejumlah obat. SAS akan memungkinkan impor obat-obatan juga bahan baku obat sampai lebih cepat ke tanah air untuk memenuhi kebutuhan RS yang saat ini tengah berjibaku dengan lonjakan jumlah pasien.

Obat-obatan yang langka itu terdiri atas obat bagi pasien gejala rungan hingga berat. SAS merupakan mekanisme jalur khusus yang memungkinkan obat atau bahan obat yang tidak atau belum memiliki izin edar namun sangat diperlukan dalam kondisi tertentu untuk masuk ke Indonesia.

“Kemenkes juga bekerjasama dengan Badan POM serta berkoordinasi dengan Dijen Bea Cukai sehingga prosesnya bisa berjalan lebih capet,” kata Arianti.

Pernyataan Arianti itu dibenarkan oleh perwakilan farmasi yang menyatakan pihaknya bahkan sempat melalui proses clearance di bandara hanya dua jam dalam proses masuknya obat berkat gerak cepat dan koordinasi antar instransi. Perwakilan industri farmasi yang hadir diantaranya dari Indofarma, Kimia Farma, Rosche serta perusahaan lainnya.

Arianti menjelaskan persyaratan SAS untuk RS adalah surat permohonan ijin pemasukan obat melalui SAS dari direktur ditujukan kepada Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Informed consent pasien atau surat pernyataan bermaterai cukup dari Direktur Medik bahwa pasien akan mengisi Informed consent sebelum menggunakan obat serta .RS yang tercantum dalam ijin SAS bertanggung jawab terhadap penggunaan, keamanan, khasiat dan mutu obat.

Sedangkan bagi importir, prosedur SAS adalah surat permohonan impor obat dari importir SAS ditujukan kepada Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, obat tersebut berasal dari sumber resmi yang dapat dibuktikan dengan dokumen Salinan Certificate Of Analysis (COA) dan/atau Invoice atau kwitansi pembelian dari distributor resmi di negara asal Air Way Bill/Bill of Lading atau surat pernyataan akan menyusulkan Air Way Bill/Bill of Lading, salinan sertifikat GMP apabila obat berasal dari produsen obat, surat pernyataan akan mencantumkan Kode SAS pada kemasan terkecil obat, obat yang dimasukkan melalui jalur khusus hanya untuk rumah sakit yang tercantum dalam ijin SAS dan tidak untuk diperdagangkan serta melakukan pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Sebagian besar pembicara dari industri farmasi menyakinkan bahwa mereka telah menempuh berbagai upaya untuk memenuhi pasokan, di antaranya dengan menjalin kerjasama dengan produsen di berbagai negara mulai India, Mesir hingga negara-negara di Eropa. Sehingga secara umum menjamin dengan adanya SAS akan mempercepat proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Langkah cepat itu dibutuhkan karena setiap negara kini tengah berupaya mengamankan persediaan, bahkan sebagian tengah menyiapkan diri menghadapi gelombang ketiga.

Webinar tersebut diikuti sedikitnya 4.800 kalangan perumahsakitan. “PERSI memiliki platform untuk melakukan upaya sosialisasi seperti ini agar kami bisa terus mendukung RS yang saat ini berada dalam tekanan yang sangat berat,” ujar Ketua Umum PERSI dr. Kuntjoro Adi Purjanto M.Kes. (IZn – persi.or.id)