Webinar PERSI: Industri Farmasi Siap Pasok Obat Covid-19, Namun Ingatkan Tunggakan Klaim JKN

webinar jaminan2

webinar jaminan2

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyelenggarakan Webinar Jaminan Pemerintah Terhadap Ketersediaan Obat Covid-19 pada Rabu (20/5). Ketua Bidang Distribusi Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) V. Hery Sutanto dalam paparannya yang berjudul Kondisi Industri dan Distributor di Era Covid -19: Ketersediaan dan Kelangsungan mengungkapkan kondisi penanganan Covid-19 dalam aspek farmasi melibatkan pedagang besar farmasi (PBF) bahan baku, pemasok bahan baku, pabrikan atau industri farmasi, PBF obat jadi, Rumah Sakit (RS), faskes lainnya, serta apotik hingga pasien Covid-19 sendiri.

Sementara, terkait kesiapan dan ketersediaan obat-obat Covid-19, Hery menyatakan, sangat ditentukan beberapa faktor yaitu dukungan pemerintah yaitu Kemenkes, BPOM, Kemenlu, Kemenperin, kontinuitas pasokan bahan baku dari China dan India, kapasitas produksi industri farmasi, kelancaran jalur logistik nasional serta pembayaran dari faskes ke PBF.

Hery merinci, terkait dukungan pemerintah, sat ini pelaku industri farmasi telah diminta segera memproduksi obat-obatan Covid-19, sementara Kemenkes sudah memberikan proyeksi jumlah kebutuhan di Faskes (RKO) serta mengkoordinasikan dengan Gugus Tugas Covid19. Sedangkan BPOM sudah mengeluarkan ijin dan pengurusan bahan baku, percepatan NIE, koordinasi dengan Gugus Tugas Covid19, serta menyusun dua Informatorium Obat-Obat Covid-19 : Obat Sintesa Kimia dan OMAI (Obat Modern Asli Indonesia). Upaya-upaya tersebut melibatkan 133 Industri Farmasi Nasional & BUMN memproduksi 12 Obat-Obatan Covid yang ada didalam Informatorium BPOM, 846 sediaan, dan mempercepat pemberian 48 NIE baru dalam kurun waktu 3 bulan.

 webinar jaminan3

Sementara, pada aspek kontinuitas pasokan bahan baku dari China dan India, obat-obatan Covid-19 yang menjadi prioritas GPFI adalah yang ada di Informatorium BPOM (Sintesa Kimia dan OMAI). Pasokan dari China sudah mulai lancar dan bahan baku bisa tiba di Indonesia namun dengan biaya transportasi dan handling naik 3 x lipat. Sementara, pasokan bahan baku dari India, masih ada kendala karena lockdown, kalaupun ada transportasi, biayanya juga naik 3x lipat. Mengatasi kondisi itu, BPOM dan Kemenlu sudah membantu kolaborasi dengan Kedubes RI di India untuk membantu.

“Saat ini GPFI juga mengantisipasi gelombang Covid-19 berikutnya, di tengah kondisi pasokan bahan baku yang belum pasti, sehingga kami memerlukan proyeksi kebutuhan. Kami juga memandang, sekarang waktunya kita mendorong kemandirian industri nasional, sudah ada informatorium BPOM dan perlu dukungan Kemkes agar digunakan di faskes-faskes,” ujar Hery.

Hery menyakinkan, terkait kapasitas produksi, kini terdapat 133 industri farmasi nasional dan BUMN yang terlibat dalam penyediaan obat-obatan Covid-19. “Kapasitas sangat cukup untuk memproduksi semua obat-obatan di Informatorium BPOM.”

Pasalnya, kata Hery, dengan penurunan kinerja industri farmasi karena permintaan yang drastis menurun hingga 50% oleh karena pasien semua penyakit lainnya yang menurun di semua faskes, maka kapasitas produksi sangat cukup untuk produksi obat penunjang Covid-19. Bahkan, jika ditentukan obat baru, jika pasokan bahan baku tersedia, maka dengan cepat industri farmasi nasional bisa memproduksi semua produk yang dibutuhkan. Untuk itu, industri memerlukan data potensi penggunaan setiap obat dari yang tercantum dalam Informatorium untuk pengaturan pembelian bahan baku dan proses produksi.

webinar jaminan1

Aspek lainnya, lanjut Hery, kelancaran distribusi dan pembayaran pada PBF, hanya ada sedikit kendala untuk pendistribusian/transportasi obat-obatan dan alkes ke beberapa area di Indonesia karena beberapa jalur penerbangan frekuensi berkurang atau jadwalnya tidak pasti, sehingga perlu penyesuaian stok di setiap cabang distribusi dan di fasilitas kesehatan yang kesulitan transportasi. Selain itu, biaya transportasi lokal melonjak karena pembatasan frekuensi penerbangan antar pulau. Distributor atau PBF pun kesulitan melayani faskes yang masih memiliki tunggakan pembayaran sejak tahun lalu belum terselesaikan atau belum ada perbaikan. “Nilainya mencapai lebih dari Rp4 triliun, yang dipicu di antaranya oleh pembayarakan klaim BPJS Kesehatan kepada faskes. Kondisi ini tentu memerlukan perhatian karena terkait Covid-19 ini kami juga memerlukan modal kerja yang jumlahnya semakin besar.”

Sedangkan jenis-jenis obat terkait Covid-19 adalah Acetyl Cysteine, Azithromycin, Cefotaxime, Chloroquine, Hydroxychloroquine, Levofloxacin, Lopinavir dan Ritonavir, Meropenem, Midazolam, Oseltamivir, Paracetamol serta Salbutamol. (IZn – persi.or.id)