Webinar Obat Kronis PERSI: Pengalaman RSHS, Setiap Ada Perubahan Aturan, Koder Roadshow Menyosialisasikan ke Dokter

Guna menyelaraskan pemahaman antara dokter spesialis dengan petugas koding atau koder tentang mekanisme penulisan resep yang di antaranya membutuhkan penulisan diagnosa yang detail dan spesifik, komunikasi kedua belah pihak harus dilakukan intens. Upaya itu juga menjadi salah satu kunci lancarnya klaim obat kronis ke BPJS Kesehatan, menghindari permasalahan dengan verifikator bahkan penolakan yang akan berbuntut pada masalah keuangan rumah sakit (RS).

“Di RSUP Hasan Sadikin Bandung, setiap ada kebijakan baru dari BPJS Kesehatan, kami dari tim koding akan melakukan roadshow ke seluruh departemen yang ada, bertemu dengan dokter-dokter. Upaya ini kami lakukan rutin dan bisa mengurangi masalah pengadaan dan pengklaiman obat, termasuk obat kronis,” kata Kepala Rekam Medis RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung Asep Supriatna, S.ST.RMIK dalam webinar “Expert Sharing: Tata Kelola Administrasi Rumah Sakit dalam Pengadaan Obat-obatan Kronis dan Pengklaimannya ke BPJS Kesehatan.”

Pada seri Webinar seri keempat yang diselenggarakan untuk terakhir kalinya itu, peserta yang dituju adalah anggota PERSI serta kalangan perumahsakitan wilayah Jawa Timur. Webinar yang diselenggarakan pada Sabtu, 20 Februari 2021 itu diikuti 1.092 peserta.

Pembaharuan pemahaman seluruh pemangku kepentingan terkait pengadaan hingga pengklaiman obat itu, kata Asep, dilakukan pihaknya setiap kali muncul peraturan baru. Pendekatan itu efektif mengurangi klaim bermasalah.

“Pemahaman yang sama harus dokter dan koder,” kata Asep yang memaparkan materi berjudul Penerapan Pengadaan Obat Kronis & Pengklaiman BPJS, Kasus Pulmonary Artery Hipertensi (PAH)

Sementara, Kepala Instalasi Farmasi RSUP dr. Saiful Anwar yang membawakan materi Strategi RSUD dr. Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, Apt. Reta Anggraeni Widya, M.Farm.Klin – dalam Pengaturan penggunaan Obat Kronis di Era JKN (Kasus PAH) menyatakan, pemahaman yang sama antara koder dan dokter itu juga diperlukan terkait jenis-jenis obat tertentu yang hanya bisa diberikan pada pasien rawat inap.

“Dokter harus memahami tersebut, jika pasien nya dalam status rawat jalan, ketika diklaim akan bermasalah. Pada kondisi itu, kita harus menjalin komunikasi supaya masalah tidak muncul belakangan,” kata Reta. (IZn – persi.or.id)