Webinar Ekosistem Kesehatan BNI: Data Kesehatan Nasional Masih Tersebar, di RS Hingga Aplikasi

BNI CorpU TV menyelenggarakan Webinar Ekosistem Kesehatan Part 1 bertema Perkembangan dan Inovasi Digitalisasi Rumah Sakit dalam Menghadapi Pandemi dan Pasca Pandemi pada Jumat (13/8). Acara yang juga disiarkan melalui YouTube Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) itu menghadirkan Ketum Umum PERSI dr. Kuntjoro Adi Purjanto, Mkes.

Kuntjoro memaparkan tema Perkembangan IT dan Digitalisasi di Sektor Kesehatan. “Guna memenuhi dimensi mutu dan mewujudkan RS yang profesional, dibutuhkan pendekatan RS yang efektif, keamanan, pendekatan berpusat pada manusia, tepat waktu, 5. Equitable. 6. Integrated, adil serta efisien,” kata Kuntjoro.

Aplikasi IT, kata Kuntjoro akan memacu efisiensi karena digitalisasi akan menghemat biaya operasional, meningkatkan kualitas perawatan, meningkatkan keterlibatan pasien dalam proses perawatan serta meningkatkan kepuasan penyedia layanan.

Kuntjoro juga menyoroti inovasi-inovasi baru, termasuk penggunaan kecerdasan buatan untuk analisis prediktif dan preskriptif yang bekerja seketika. Misalnya, memprediksi kondisi masa depan seorang
pasien berdasarkan tanda-tanda peringatan dini, data didapatkan dari berbagai sumber, termasuk dari pengobatan yang sukses atau gagal sebelumnya.

“Sehingga rekomendasi terbaik dibantu mesin, kecerdasan buatan ini akan terus belajar berdasarkan pengalaman sendiri atau mesin lain serta tidak pernah lelah ataupun stres.”

Kecenderungannya, kata Kuntjoro, pada kondisi pandemi dan pascapandemi jika sebelumnya kualitas dan keamanan menjadi pemacu utama pemilihan layanan kesehatan, sekarang menjadi keamanan sebagai prioritas pertama, baru diikuti kualitas. Juga terbuka kemungkinan RS akan terbagi dua, RS khusus Covid-19, RS nonCovid-19. Menguat pula permintaan layanan drive through, PCR, klinik anak drive through
serta kian intensnya marketing melalui media sosial yaitu podcast, instagram, twitter. Kecnderungan lainnya, RS akan mendatangi pasien dalam layanan homecare Telemedicine, Telehealth, serta Teleconsultation.

Sementara, anggota Kompartemen Data dan Informasi PERSI dan pengajar di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM Anis Fuad menyatakan, setiap bulan, sekitar 10,4% masyarakat berkunjung ke pelayanan kesehatan rawat jalan (Riskesdas, 2013), per hari, lebih dari 1 juta transaksi tercatat di sistem elektronik BPJS Kesehatan.

Namun, tingginya kebutuhan akan layanan kesehatan itu belum diimbangi optimal oleh implementasi digitalisasi. Data Juli 2020 menunjukkan, baru sebanyak 85% RS memiliki sistem informasi manajemen RS (SIMRS) dan sisanya, 15% belum memiliki SIMRS atau tidak berfungsi.

Begitu pula, data kesehatan masih berserak di BPJS Kesehatan. institusi penelitian, sistem surveilans, SIMR, surveilans kesehatan kerja, aplikasi kesehatan serta media sosial. Data itu butuh dikonsolidasikan dan menjadi kekuatan bagi pembangunan kesehatan nasional. (IZn – persi.or.id)