Webinar Covid-19 PERSI: Kemenkes Paparkan Prosedur Pengelolaan Limbah Medis

materi drimran

materi drimran

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan dr. Imran Agus Nurali, Sp.KO memaparkan prosedur pengelolaan limbah medis di era Covid-19 dalam Webinar yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) hari ini, Rabu (1/4), diantaranya:

 

  • Pertama, unit Proses IPAL sekurang-kurangnya terdiri atas proses sedimentasi awal, proses biologis (aerob dan/atau anaerob), sedimentasi akhir, penanganan lumpur , dan desinfeksi dengan KLORINASI (dosis disesuaikan agar mencapai sisa klor 0,5 ppm).
  • Kedua, pengukuran unit proses desinfeksi air limbah dengan kandungan sisa klor pada kisaran 0,5 ppm sekurang-kurangnya sekali dalam sehari.
  • Ketiga,pengukuran kualitas air limbah hasil proses pengolahan. Pastikan semua parameter kualitas air limbah hasil pengolahan memenuhi baku mutu air limbah domestik, meliputi parameter derajat keasaman (PH), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), Minyak dan lemak, amoniak, total coliform dan debit yang dilakukan sekurang-kurangnya setiap 1 minggu sekali.
  • Keempat, sediakan wadah limbah padat domestik dilokasi mudah dijangkau orang, yaitu wadah untuk limbah padat organik, non organik dan limbah padat khusus (untuk masker sekali pakai, sarung tangan bekas, tissue / kain yang mengandung cairan/ droplet hidung dan mulut).
  • Kelima, limbah padat organik dan anorganik agar disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Sampah/ limbah domestik paling lama 1 x 24 jam untuk kemudian dibawa oleh Dinas Kebersihan.
  • Keenam, limbah padat khusus agar disimpan di Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) sampah/ limbah B3 dengan perlakuan seperti limbah B3 infeksius.
  • Ketujuh, setelah selesai digunakan, wadah/bin didesinfeksi dengan desinfektan KLORIN 0,5%, Lysol, Karbol dan lain-lain.
  • Kedelapan, sampah/Limbah B3 Medis yang telah diikat, dilakukan desinfeksi menggunakan desinfektan KLORIN konsentrasi 5% bila akan diangkut ke pengolah
  • Kesembilan, pengangkutan dilakukan dengan menggunakan alat transportasi khusus limbah dan petugas menggunakan APD
  • Kesepuluh, perlakuan untuk limbah infeksius Fasyankes yaitu: penyimpanan limbah dalam kemasan tertutup paling lama 2 hari sejak dihasilkan serta mengangkut dan /atau memusnahkan pada pengolahan limbah B3 : insenerator pada suhu min 800 C serta autoklaf dengan pencacah / shredder. Residu hasil insenerator / Autoklaf diserahkan kepada pengelola limbah B3.

“Usahakan limbah dari prosedur penanganan Covid-19 ini diberi nama tertentu agar semua petugas, transporter dan pengolah mengetahuinya sehingga juga melakukan prosedur khusus untuk meminimalisir risiko,” ujar Imran.

Tak kalah pentingnya, Imran juga menuturkan prosedur penanganan pada masker bekas pakai yaitu direndam dalam deterjen setelah sebelumnya dipotong atau dirusak agar tak digunakan kembali. (IZn – persi.or.id)