Webinar Covid-19 PERSI: Satu Pasien di RS Rujukan dan Darurat Hasilkan 14,3 kg Limbah Medis per Hari

narsum webinar

narsum webinar

Sekjen Indonesian Environmental Scientists Association (IESA) Dr. Lina Tri Mugi Astuti memperkirakan rata-rata pasien terinfeksi Covid-19 yang dirawat di rumah sakit (RS), baik rujukan maupun darurat menghasilkan limbah medis sebanyak 14,3 kg perhari. Perkiraan itu didasarkan atas angka yang dialami China yang menjadi negara dengan kasus Covid-19 pertama di dunia.

“Sehingga, mengacu pada timbulan sampah perpasien di China itu, dengan jumlah pasien di Indonesia saat ini, maka di Indonesia akan ada tambahan limbah medis sebanyak 8.580 ton per hari. Jumlah itu belum termasuk limbah yang dihasilkan mereka yang berstatus ODP yang berada di rumah dan juga menghasilkan limbah yang berisiko,” ujar Lina dalam Webinar Covid-19 yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) kemarin, Rabu (1/4) bertema Pengelolaan Limbah Medis di RS.

Lina menjelaskan, sebenarnya pemerintah, baik Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang juga didukung pemerintah daerah telah berupaya mengantisipasi kondisi itu. Salah satu dasar hukum yang digunakan, Surat Edaran 2 /MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease. Aturan itu mencakup Penanganan Limbah Infeksius yang berasal dari Fasyankes, Limbah infeksius dari ODP yang berasal dari rumah tangga serta Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.

Jenis Limbah yang harus diwaspadai terkait pandemi ini adalah yang berasal dari laboratorium, farmasi, patologi serta alat pelindung diri (APD). “Studi kasus China, kapasitas pembuangan limbah medis semula 4.902,8 ton/hari kemudian meningkat 1.164 ton/hari menjadi 6.066,8 ton/hari.”

Di Indonesia, kata Lina, tantangannya adalah kepemilikan incinerator pada RS dan pihak ketiga hanya ada 96 serta pihak ketiga yang memiliki izin mengelola adalah 5 di Pulau Jawa serta 1 di Kalimantan. “Fasilitas-fasilitas itu terus berpacu dengan pertambahan jumlah limbah yang dihasilkan 132 RS rujukan yang menyediakan 5.568 tempat tidur. Di saat yang sama, limbah medis juga dihasilkan dari kegiatan operasional sehari-hari dari 9,909 Puskesmas, 2,852 RS serta 8,841 klinik yang setiap harinya menghasilkan 296,86 ton. Sebelum ada Covid-19 saja, limbah medis yang dihasilkan, yang sudah diolah baru mencapai 57%.”

Selain kriteria limbah medis berupa benda-benda infeksius, benda tajam, patologis, obat kedaularsa, tumpahan, radioaktif serta sitotoksik, terkait Covid-19, juga harus diwaspadai sisa makanan dan minuman pasien yang mengandung droplet dan berpotensi menularkan. “Jika dibuang dan diperlakukan sebagaimana sampah domestik maka berisiko menularkan jika kemudian dikorek-korek pemulung di tempat sampah misalnya. Untuk itu, RS harus mengikuti protokol yang ada.”

Selain itu, Lina juga mengingatkan, terkait bahaya dan volume yang cukup tinggi, maka masa waktu penyimpanan limbah medis ex Penanganan Covid dipercepat maksimal 1×24 jam. Selain itu, diupayakan pula pengolah on-site di salah satu RS Rujukan Covid-19 yang mampu menampung limbah infeksius dari RS Rujukan Covid-19 lainnya selama era Covid.

“Mengingat persoalan limbah medis yang sebelum era Covid-19 yang masih belum selesai, Kemenkes dapat mulai membuat Map pengolahan limbah medis secara komunal, dikoordinasi pemerintah daerah bersama dinas kesehatan. perlu membuat perencanaan dan pemantauan pengolahan limbah infeksius. RS besar dapat melakukan pengolahan limbah medis B3 yang bersumber dari Rumah Sakit kecil, Puskesmas, Klinik berdasarkan wilayah kota/kabupaten.” (IZN – persi.or.id)


Berita Terkait