Simposium Transformasi Digital Indonesia: RS Diminta Move On dari Covid-19

Kalangan perumahsakitan diminta segera move on dari Covid-19 dan kembali intens melakukan transformasi digitalisasi kesehatan serta meneruskan upaya penanganan penyakit kronis dan masalah kesehatan lainnya yang masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia, seperti tuberkulosis.

Berbagai agenda sektor kesehatan Indonesia yang sempat terkendala di masa pandemi.itu kini perlu segera ditangani. Digitalisasi kesehatan diperlukan untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Sedangkan di sektor medis, perhatian kembali perlu difokuskan pada penyakit-penyakit selain Covid-19 untuk menyelamatkan para pasien dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

“Tentu kita tidak mengabaikan Covid-19, kita tetap waspada dan mengawal pandemi ini hingga berakhir, namun sudah terlalu banyak pekerjaan rumah yang tertunda dan segera harus kita tangani. Rumah Sakit (RS) tidak bisa lagi berharap dari penanganan Covid-19, jadi mari segera beralih ke transformasi digital dan penyakit-penyakit yang menunggu penanganan optimal,” kata Presiden Direktur Indonesia Healthcare Corporation (IHC) Fathema Djan Rachmat dalam Simposium Transformasi Digital Indonesia yang diselenggarakan Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) di Jakarta, Rabu (25/5).

Fathema juga menjadi Steering Committee HIMSS22 APAC Health Conference & Exhibition yang akan diselenggarakan di Bali pada 27 hingga 28 September 2022 yang juga didukung Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) serta Kementerian Kesehatan.

Vice President & Executive Director, APAC at HIMSS Simon Lin dalam sesinya menyatakan organisasinya telah memulai berbagai proyek dengan IHC , Siloam Hospitals Group, serta RS Pondok Indah Group untuk mengukur kematangan RS-RS yang dinaungi kelompok usaha tersebut secara digital.

“Tujuan kami menemukan cara memanfaatkan percepatan kesehatan digital yang sebagian terjadi akibat pandemi,” tambahnya.

Simon memaparkan, HIMMS didirikan pada 1961 di Chicago sebagai organisasi nirlaba global dengan misi mereformasi ekosistem kesehatan dunia untuk mewujudkan potensi kesehatan penuh setiap manusia dengan fokus operasi di Amerika Utara, Eropa, Inggris, Timur Tengah, dan Asia-Pasifik. HIMSS beranggotakan 110.000 individu, 480 organisasi penyedia, 470 mitra nirlaba, serta 650 organisasi layanan kesehatan. HIMSS juga bermitra dengan lebih dari 67.000 institusi kesehatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dalam operasinya menyokong kesehatan lebih dari 830 juta orang di 56 negara. (IZn – persi.or.id)

Berita Terkait:
Agar Sigap Implementasi Transformasi Digital, RS Diajak Ikut HIMSS22 APAC Health Conference & Exhibition