Setiap Provinsi Ditargetkan Punya RS Paripurna dan Kabupaten/Kota Miliki RS Menengah

Kondisi pandemi Covid-19 yang mulai melandai, memicu kenaikan jumlah pasien serta kebutuhan penanganan penyakit lain yang sebelumnya sempat tertahan, termasuk Penyakit Tidak Menular (PTM). Di sisi lain, pandemi COVID-19 telah mengajarkan, tak ada satupun orang yang aman, sehingga dibutuhkan pelayanan kesehatan yang lebih siaga, antisipatif, responsif dan tangguh dalam menghadapi ancaman masalah kesehatan saat ini maupun yang akan datang.

Kementerian Kesehatan mengantisipasi dengan menyusun langkah konkrit dengan melakukan transformasi sistem kesehatan yang fokus pada 6 pilar, salah satunya transformasi layanan rujukan. Tujuannya, mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat. Implementasinya, dilakukan pengembangan layanan unggulan dan jejaring pelayanan rujukan untuk penanganan empat penyakit tidak menular yakni stroke, kanker, jantung dan ginjal. Keempat penyakit itu jumlahnya terus meningkat serta menjadi penyebab utama kematian dan berkontribusi pada besarnya biaya kesehatan.

“Kita perlu dorong fasilitas pelayanan kesehatan terutama di Daerah Terluar, Pedalaman dan Kepulauan (DTPK) yang saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan layanan terhadap penyakit katastropik tersebut. Tentunya karena pelayanan rujukan rumah sakit (RS) sangat penting untuk masyarakat,” kata Wakil Menteri Kesehatan dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. .

Dante mencontohkan, untuk layanan penyakit jantung misalnya, sekarang ini belum banyak kabupaten/kota yang mampu melakukan pemasangan ring jantung. Akibatnya, sebagian pasien harus menunggu dalam jangka waktu yang lama untuk dilayani da nada juga yang memilih berobat ke luar negeri.

”Untuk mempermudah akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, transformasi harus segera kita lakukan, sehingga masyarakat tidak perlu lagi mengantre lama demi bisa berobat,” kata Dante.

Implementasinya, Kementerian Kesehatan menargetkan 514 kabupaten/kota memiliki RS yang mampu melakukan pelayanan kesehatan untuk keempat penyakit tersebut. ”Visi mempercepat cakupan pelayanan rumah sakit untuk 4 penyakit katastropik sedang kita lakukan untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Kita targetkan 34 provinsi memiliki minimal 1 RS tingkat paripurna/utama dan 507 kabupaten/kota memiliki minimal 1 RS tingkat menengah,” ujar Dante.

Demi mencapai target tersebut, pengembangan layanan rumah sakit dilakukan bertahap. Tahap pertama, progresnya ditargetkan mencapai 50% pada 2025, sedangkan tahap kedua ditargetkan rampung 100% pada 2027.

“Untuk mencapainya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan komitmen dan kolaborasi lintas sektor termasuk sektor swasta untuk membantu pemerataan akses dan meningkatkan pelayanan kesehatan. RS swasta diharapkan dapat berperan aktif dengan mengembangkan center of excellence dengan layanan prioritas yaitu kardiovaskular, kanker, stroke dan uronefrologi. Kolaborasi ini untuk mewujudkan layanan kesehatan bermutu, berkualitas dan mudah diakses,” kata Dante. (IZn – persi.or.id)