Seminar Nasional PERSI Diskusikan RS Tanpa Kelas Hadirkan Kemenkes dan BPJS Kesehatan

diskusi panel semnas20

diskusi panel semnas20

Seminar Nasional Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) memasuki hari kedua. Pagi ini, Minggu, 1 November 2020 menghadirkan agenda diskusi pleno, penganugerahan PERSI Golden Award bagi RS-RS yang dinilai berhasil melakukan inovasi dan meningkatkan kualitas layanan dan kinerja keuangan di masa Covid-19 serta doa untuk bangsa dari kalangan perumahsakitan untuk mendukung perjuangan Indonesia di masa pandemi.

Pada sesi diskusi pleno bertema Informasi dan Implementasi Kebijakan Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional di Rumah Sakit berbicara Prof. Dr. H. Abdul Kadir, Sp.THTKL(K), MARS, PhD (Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan yang menjelaskan tentang Tatanan Baru Rumah Sakit Indonesia sesuai Permenkes No. 3 Tahun 2020 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit.

diskusi profkadir semnas20

Kadir menekankan, klasifikasi Rumah Sakit Umum (RSU) Kelas A, B, C dan D tidak lagi berdasarkan memiliki kemapuan pelayanan medik spesialis dan subspesialis, tetapi hanya berdasarkan jumlah tempat tidur, yaitu sebagai berikut: RSU Kelas A : Paling sedikit 250 buah, RSU Kelas B : Paling sedikit 200 buah, RSU Kelas C : Paling sedikit 100 buah, serta RSU Kelas D : Paling sedikit 50 buah. Aturan paling signifikan lainnya, dokter spesialis tidak lagi dibatasi untuk RS klasifikasi tertentu, namun bisa berpraktik di seluruh jenis tingkatan RS.

“Diperkirakan akan ada kecenderungan pertumbuhan RS khusus dengan kompetensi tertentu,” kata Kadir.

diskusi drmaya semnas20

Selain itu, berbicara juga Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS Kesehatan Dr. Maya A. Rusady, M.Kes, AAK yang menyatakan regulasi itu akan ditunjang dengan digitalisasi, termasuk menyangkut ketersediaan tempat tidur yang selama ini sering dikeluhkan pasien. “Ini merupakan solusi kami atas berbagai permasalahan yang dihadapi pasien selama ini. Kini tidak ada lagi ada kelas-kelas bagi ruangan perawatan pasien,” kata Maya.

Terkait kondisi perumahsakitan yang terguncang dalam mas Covid-19, sehingga membuka opsi kemungkinan peningkatan tarif, Maya menegaskan pihaknya berkomitmen membuka data kepada Kementerian Kesehatan sebagai pihak yang berwenang menentukan besaran tarif. “Kami siap membuka data karena pada dasarnya kami mendukung RS dan PERSI untuk senantiasa mempertahankan dan meningkatkan mutu.” (IZn – persi.or.id)