RS Pondok Indah Group Capai Digital Maturity Level HIMSS EMRAM Tingkat 6

Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Group meraih validasi Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) Electronic Medical Record Adoption Model (EMRAM) Tingkat 6. EMRAM merupakan sistem yang mengukur tingkat kematangan digital atau maturity level rumah sakit (RS) di seluruh dunia dengan tingkat 7 sebagai capaian tertinggi.

Raihan EMRAM Tingkat 6 ditandai penerapan sistem pencatatan data pasien yang paperless dan memanfaatkan sistem informasi teknologi pintar untuk meningkatkan kualitas, keamanan, serta efisiensi layanan. Pencapaian ini juga menjadi penanda transformasi digital RSPI Group untuk menghadirkan layanan kesehatan yang mengutamakan mutu, keselamatan, dan kenyamanan pasien, telah sukses dilakukan.

“Validasi HIMSS EMRAM Tingkat 6 merupakan bentuk pencapaian akan komitmen RS dalam meningkatkan kepuasan pasien melalui penyempurnaan kualitas layanan secara berkesinambungan. Kami telah mengintegrasikan layanan penunjang seperti laboratorium, farmasi, dan radiologi dengan rekam medis pasien. Kami juga mengintegrasikan berbagai macam software dan ratusan alat medis, serta mengimplementasikan IT security untuk memastikan 95-100% dokumentasi medis dilakukan digital dan terstruktur. Semua proses itu didukung clinical decision support yang telah tersistemasi,” ujar Chief Executive Officer (CEO) RSPI Group, dr. Yanwar Hadiyanto, MARS, melalui siaran pers hari ini, Selasa, 19 April 2022.

Di Indonesia, baru tiga RS di bawah naungan RSPI Group yakni RSPI Pondok Indah, RSPI Puri Indah, dan RSPI Bintaro Jaya, yang berhasil meraih validasi HIMSS EMRAM Tingkat 6. Di Asia Tenggara, total terdapat 7 RS yang aktif tervalidasi HIMSS EMRAM Tingkat 6 dan 7.

Chief of Financial and Technology Officer RSPI Group Nina Windu Kirana menyatakan adopsi dan inovasi teknologi diterapkan dalam penggunaan rekam medis elektronik. “Ini memberi kemudahan bagi dokter serta tenaga medis untuk mengurangi kesalahan perawatan, input berganda (multiple entry), menyederhanakan alur pemeriksaan, serta memanfaatkan penggunaan data agar perawatan pasien lebih optimal,” katanya.

Salah satu penerapan digitalisasi yang berkontribusi dalam pencapaian EMRAM Tingkat 6 adalah closed loop administration, yaitu validasi secara digital dalam proses pemberian obat, darah, dan ASI perah (ASIP) bagi pasien rawat inap dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) menggunakan pindai kode atau QR. Hasilnya, prinsip 6 Tepat Pemberian Obat yang meliputi Tepat Pasien, Tepat Obat, Tepat Dosis, Tepat Waktu, Tepat Cara, dan Tepat Dokumentasi dilakukan lebih akurat.

Selain itu, sistem clinical decision support juga akan memberikan notifikasi saat dokter meresepkan obat bagi pasien dengan kondisi tertentu, misalnya mereka yang alergi obat, risiko kontraindikasi antarobat, atau sedang hamil. Notifikasi bermanfaat bagi tenaga medis dalam mengambil keputusan medis lanjutan, kini telah diterapkan di klinik rawat jalan, rawat inap, gawat darurat, serta ICU.

Optimalisasi juga dilakukan di area IT Security untuk mencegah penyalahgunaan data. Sistem infrastruktur IT juga telah dilengkapi sistem khusus yang tidak bergantung pada jaringan dan listrik sehingga perawatan dan pelayanan tetap berjalan meski terjadi gangguan pada kedua fasilitas itu. (IZn – persi.or.id)