RS Diajak Gelar Surveilans Perlindungan Nakes

Tim Mitigasi Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Project Hope menyelenggarakan webinar User-Friendly Surveillance Tool untuk Perlindungan Tenaga Kesehatan (nakes) pada Kamis (12/8).

Pengurus Kompartemen Mutu Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia Pusat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Dr. dr. Hanevi Djasri, MARS, FISQua memaparkan, acara yang diikuti tenaga kesehatan dan kalangan perumahsakitan itu bertujuan membekali mereka agar dapat mengusulkan kepada manajemen rumah sakit (RS) untuk melakukan surveilans pada tenaga kesehatan di lokasi tugasnya masing-masing.

Hanevi menjelaskan, surveilans adalah proses yang dinamis, sistematis, terus-menerus dalam pengumpulan data, identifikasi, analisis dan interprestasi data kesehatan yang penting pada suatu populasi spesifik yang didiseminasikan secara berkala kepada pihak-pihak yang memerlukan. Hasil surveilans tersebut digunakan dalam perencanaan, penerapan dan evaluasi suatu upaya kesehatan.

“Dalam Surveilans Program PPI Covid-19 pada Nakes di RS, proses dilakukan dinamis, sistematis, terus-menerus dalam pengumpulan data, identifikasi, analisis dan interprestasi data pelaksanaan dan hasil program Program Pencegahan Infeksi (PPI) Covid-19 pada tenaga kesehatan. Hasilmya, didiseminasikan berkala kepada direksi dan pemilik RS untuk digunakan dalam perencanaan, penerapan dan evaluasi PPI Covid-19,” kata Hanevi.

Metode surveilans yang diberlakukan dalam program ini, lanjut Hanevi, terdiri atas Surveilans Proses yang memantau pelaksanaan langkah-langkah pencegahan yang dilihat dari Pedoman PPI Covid-19 di RS. Selain itu, terdapat pula Surveilans Hasil yang memantau laju angka (hospital acquired infection (HAI) atau infeksi rumah sakit (IRS) atau dalam hal ini angka infeksi Covid-19 pada tenaga kesehatan di RS.

Selain itu, berdasarkan cakupan, terdapat Surveilans Komprehensif yang dilakukan di semua area perawatan serta Surveilans Target yang terfokus pada ruangan tertentu yaitu IGD, Ruang Isolasi, HCU, ICU.

Terkait pelaksanaan, Hanevi menjelaskan tim PPI berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan 27/2017 terdiri atas Ketua, Sekretaris, serta anggota yang terdiri dari clinical epidemiologi dan Infection Prevention and Control Link Nurse (IPCLN). Sementara, khusus untuk Tim Surveilans Program PPI Covid-19 pada tenaga kesehatan, direkomendasikan dibentuk tim baru sebagai tambahan dari anggota Tim PPI yang terdiri atas Infection control surveillanceworking group (ICS-WG) serta Infection control coordinators (ICCs).

“Ada pula pula pembelajaran praktik baik dari St. Mary’s Hospital di Seoul, Korea, yang terdiri atas 800 tempat tidur serta 2.500 staf. Selama pandemi RS ini mengeluarkan pedoman terkait dengan skrining dan triase pasien, penggunaan APD, kebersihan tangan dan pernapasan, pemrosesan ulang peralatan, pembersihan lingkungan, pengelolaan limbah medis dan penjagaan jarak sosial.”

Sementara, perwakilan WHO dr. Mushtofa Kamal memperingatkan peningkatan kasus Covid-19 di luar Jawa dan Bali yang telah memicu kapasitas RS. “WHO memprioritaskan tenaga kesehatan, untuk melindungi tenaga kesehatan, pasien. Pentingnya keselamatan tenaga kesehatan sangat penting untuk mempertahankan pelayanan baik untuk Covid-19 maupun pelayanan esensial lainnya. Perlindungan itu meliputi dari potensi terinfeksi maupun kondisi psikis, stigma dan risiko-risiko lainnya.” (IZn – persi.or.id)