Robotic Telesurgery Beroperasi di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan RSUP Dr. Sardjito

Kementerian Kesehatan mendirikan Robotic Telesurgery di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Fasilitas itu dirintis sejak kegiatan business matching pada Health Business Forum. Proyek ini dirancang berjalan multitahun dan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan yang akan berjalan hingga 2024.

“Proyek ini bernilai ekonomi serta edukasi karena terjadi transfer pengetahuan dan alih teknologi. Proses ini mendorong industri dalam negeri mampu memproduksi alat dan sparepart dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencukupi,” ujar Staf Khusus Menkes Bidang Ketahanan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan Laksono Trisnantoro dalam seminar kurikulum bedah robotik, Selasa (14/6).

Robotic Telesurgery ini berjalan multitahun, bertujuan meningkatkan akses dan mutu layanan kesehatan di pelosok serta menjadi bagian dari program telemedisin.

“Robotic Telesurgery kini berada dalam tahap pelatihan para dokter bedah menggunakan Virtual Reality (VR) Simulator Robotic Telesurgery. Kurikulum pelatihan bedah robotik akan tersertifikasi dan terakreditasi, ke depan diharapkan masuk dalam kurikulum pendidikan spesialis dokter bedah,” kata Laksono.

Teknologi ini, lanjut Laksono, mendukung transformasi layanan sekunder berbasis teknologi melalui layanan operasi/bedah jarak jauh. Ke depannya diharapkan menurunkan pasien rujukan ke RS tipe A atau RS rujukan nasional.

“Proyek Robotic Telesurgery merupakan contoh konkret 4 Pilar Transformasi Sistem Kesehatan Transformasi Kesehatan yaitu transformasi layanan rujukan, pembiayaan kesehatan, ketahanan industri alat kesehatan (alkes), dan SDM Kesehatan.“

Dokter Ahli Bedah Robotik RSHS Reno Rudiman mengungkapkan implementasi Robotic Telesurgery membutuhkan komitmen RS, universitas dan industri alat kesehatan BUMN. “Program Robotic Telesurgery telah berjalan di RSHS sejak 2020. Robotic Sina di RSHS melakukan pembedahan menggunakan instrumen moduler masing-masing tower, sehingga pergerakkannya lebih fleksibel. Instrumen Sina memiliki ukuran 5 mm sehingga luka operasi bisa lebih minimal invasive. Teknologi ini lebih ekonomis untuk JKN, apalagi instrumennya nanti bisa diproduksi di dalam negeri.”