Refleksi Akhir Tahun PERSI: RS Antisipasi Omicron dan Nataru

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) sudah mengirimkan surat edaran sejak tiga pekan lalu kepada rumah sakit (RS) anggota untuk mempersiapkan diri dan bersiaga menghadapi Omicron, varian baru covid-19.

“Saya sangat yakin, kalangan perumahsakitan mampu mengantisipasi varian Omicron, kesiapsiagaan ini sangat penting bagi Indonesia untuk bertahan dan bangkit di masa pandemi. PERSI mempunyai tanggung jawab untuk mempersiapkan anggota menghadapi situasi ini. Saya yakin RS memiliki kemampuan dan keterampilan yang lebih baik saat ini, setelah menghadapi 2 puncak kasus sebelumnya,” kata Ketua Umum PERSI dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS dalam Webinar Refleksi Akhir Tahun: Kesiapan Rumah Sakit untuk Antisipasi Varian Omicron Menghadapi Libur Natal dan Tahun Baru (nataru) pada Minggu, 19 Desember 2021.

Webinar itu, kata Bambang, diselenggarakan PERSI bersama Institut Manajemen RS (IMRS) dan Kompartemen Manajemen Penunjang dan Tanggap Bencana.

Ketua IMRS dr. Arjaty Wahidah Daud, MARS menyatakan kegiatan itu diharapkan dapat menunjang kesiapan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah dalam mengantisipasi omicron sekaligus libur nataru.

Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), DTMH, MARS – Direktur Pasca Sarjana Univ. YARSI yang juga mantan Direktur WHO Asia Tenggara serta mantan Dirjen P2P Kementerian Kesehatan menyatakan penemuan omicron akan sangat berdampak pada PCR. “Omicron akan berdampak pada prosedur untuk mengantisipasi pola penularan, beratnya penyakit, infeksi ulang, dampak pada vaksin, analisa obat COVID-19 serta mutasi spike protein di posisi 69-70 yang menyebabkan terjadinya fenomena “S gene target failure (SGTF)” dimana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi, hal ini disebut juga drop out gen S,” kata Tjandra.

Tjandra menjelaskan lebih lanjut, walau ada masalah di gen S tetapi untungnya masih ada gen-gen lain yang masih bisa dideteksi sehingga secara umum PCR masih dapat berfungsi. Tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal kemungkinan varian Omicron, yang tentu perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan “Whole Genome Sequencing.”

“Kalau kemampuan WGS terbatas, maka ditemukannya SGTF dapat menjadi semacam bantuan untuk menyaring mana yang prioritas dilakukan WGS, selain kalau ada kasus berat, atau ada klaster, atau ada kasus yang tidak wajar perburukan kliniknya,” kata Tjandra.

Kalau disuatu daerah ditemukan peningkatan “S gene target failures (SGTF),” lanjut Tjandra, maka ini mungkin dapat menjadi suatu indikasi sudah beredarnya varian Omicron. “Informasi di atas penting dan sebaiknya dijadikan perhatian penting juga bagi kita di Indonesia dalam menganalisa hasil PCR yang setiap hari dilaporkan

Tjandra menegaskan, mengantisipasi Omicron, harus dilakukan peningkatan surveilans dan sekuensing, bukan hanya pada pendatang tapi juga pada masyarakat luas serta identifikasi klaster dengan “Lab based-surveillance” yang melaporkannya sesuai mekanisme “International Health Regulation (IHR).”

“Juga perlu dilakukan penyelidikan lapangan dan penilaian laboratorium (“laboratory assessment”) untuk lebih memahami kemungkinan dampak dari varian baru ini. Langkah ini harus dibarengi pembatasan sosial 3M dan 5M, PPKM sesuai levelnya, 3 T, peningkatan jumlah PCR, WGS, telusur jangan hanya 8 orang serta tentunya vaksinasi.” (IZn – persi.or.id)