PERSI, PERKI dan RSUP Sanglah Berkolaborasi Gelar Med Verify Kedua

persi rsupsanglah

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) hari ini, Selasa, 8 September, berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI), menyelenggarakan Med Verify, Pelatihan Manual Koding Klaim INA-CBGs Penyakit Jantung dengan tuan rumah RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.

Pelatihan yang diselenggarakan daring itu diikuti peserta yang terdiri atas direktur rumah sakit (RS), Komite Medis, Kepala Panduan Praktik Klinis (PPK), Bagian Pengadaan, Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP), Bagian Cathlab, Instalasi Farmasi, Farmasi Cathlab, Klinisi, Kepala Instalasi Penjaminan Klaim, Tim Casemix, Koder serta Verifikator BPJS. Acara di RSUP Sanglah ini merupakan yang kedua dari 15 pelatihan yang akan diselenggarakan di RS lainnya di seluruh Indonesia.

Kegiatan yang dibuka Ketua Umum PERSI dr. Kuntjoro Adi Purjanto M.Kes ini menghadirkan anggota Kompartemen Jaminan Kesehatan Fajaruddin Sihombing yang memaparkan tentang Roadmap Panduan Koding Kardiovaskular, Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan yang diwakili Kayun Kasmidi yang menjelaskan Update Regulasi dan Kaidah Koding Kardiovaskular dalam INA-CBG, serta Studi Kasus TEVAR/EVAR dari dr. Nazirah Istianisa, MARS yang mewakili Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dah tak dr. R. Suhartono, Sp.B-KV dari RSCM. Diskusi dimoderatori Ketua Instalasi Penjaminan Klaim RSUP Sanglah Kadek.

“Pada 2018, prosedur kardiovaskular ringan, sedang, dan berat masuk ke dalam peringkat 10 besar grouping INA CBG’s dengan pembiayaan JKN yang sangat besar. Selain itu, masih banyak prosedur jantung lainnya Prosedur jantung intervensi dan invasive sampai sekarang ini masih menjadi kebutuhan standar medis yang belum secara optimal diakomodir dalam pelayanan sistem JKN,” ujar Fajar.

persi rsupsanglah 01

Fajar menegaskan, idealnya koding, termasuk bagi penyakit jantung harus rinci, mudah dipahami, berkekuatan hukum, diterima oleh semua stakeholder serta mengakomodir kondisi/disparitas wilayah pelayanan seperti ketersediaan SDM, alat kesehatan dan pendukung layanan lainnya.

“Targetnya, panduan manual coding penyakit jantung yang akan menjadi percontohan selesai pada 2021 sehingga semua jenis pelayanan penyakit jantung masuk dalam pembiayaan JKN dan tarifnya realistis.”

Sementara terkait Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEVAR) dan Endovascular Aneurysm Repair (EVAR), dua prosedur pada penyakit jantung yang kerap memicu dispute antara BPJS Kesehatan dengan RS, Nazirah memaparkan, sistem rekam medis elektronik menjadi kunci untuk meminimalisir dispute. Rekam medis itu bisa dengan mudah bisa diakses berbagai pihak yang berkepentingan, mulai dokter, petugas koder RS hingga BPJS Kesehatan. Kondisi itu kemudian dipadukan dengan pemetaan atas jenis dan jumlah tindakan serta kelancaran klaim.

“Sehingga dengan begitu kami bisa menargetkan di awal tahun jenis dan jumlah tindakan yang dilakukan, yang juga kami kaitkan dengan kondisi keuangan RS. Kami juga memadukannya dengan sistem subsidi silang serta rekam medis digital. Sejauh ini kami tidak mengalami masalah dalam klaim,” ujar Nazirah tentang kiat sukses PJN Harapan Kita.

persi rsupsanglah 02

Sementara, Suhartono menggambarkan kondisi RSCM yang disebutnya seringkali mengalami kondisi yang lebih kompleks dibandingkan PJN Harapan Kita. “Kasus yang kami hadapi lebih kompleks, bahkan sering mendapat pasien yang sudah tidak dapat ditangani RS lain termasuk Harapan Kita sehingga pengaturan untuk menghindari dispute ini sangat kami perlukan,”

Keduanya sepakat, sejumlah tindakan pada penyakit jantung, termasuk TEVAR dan EVAR, perlu terus dilakukan RS karena mengasah keterampilan dokter sekaligus menentukan kualitas layanan RS, sehingga solusi atas dispute harus menjadi prioritas.

Pelatihan itu dilatari masih sering terjadinya ketidaksepakatan terkait koding antara petugas verifikator BPJS Kesehatan dengan koder fasilitas kesehatan yang dipicu belum meratanya kompetensi keduanya. Selain itu, masih terjadi juga variasi pemberian layanan karena belum terstandarnya pelayanan atau perbedaan standar fasilitas kesehatan sehingga menimbulkan perbedaan persepsi dalam penyelesaian klaim.

Guna mengatasinya, BPJS Kesehatan bersama dengan Kementerian Kesehatan telah menyusun Manual Verifikasi Klaim INA-CBG yang telah mencapai dua tahapan. Pada tahap pertama, disusun berdasarkan diagnosa dan prosedur terbanyak yang terdiri atas manual verifikasi terkait koding, aspek klinis, dan administrasi. Sedangkan tahap kedua adalah perbaikannya. Diharapkan dengan adanya Manual Verifikasi Klaim INA-CBG tersebut, dapat meminimalisir terjadinya dispute claim baik dari sisi koding, klinis, maupun administrasi.

Tujuan akhir yang ingin dicapai, membentuk Tim percepatan yang terdiri dari P2JK, PERKI, PERSI, RS Jantung dan PD Harapan Kita, dan pemerhati koding guna membantu percepatan Manual koding khusus penyakit Jantung. Med Verify juga diinisiasi dengan FGD pada 19 Desember 2019 yang dilakukan antara PERSI, PERKI, dan Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

Dari RSUP Sanglah sendiri muncul pertanyaan tentang cara penyusunan diagnosa untuk menjadi menghindari dispute. “Bagaimana kuncinya supaya tidak ada masalah, apakah semata ditentukan banyaknya diagnosa?” ujar Kadek.

Menanggapi hal itu, Kayun menegaskan bahwa diperlukan penulisan diagnosa yang detil dan spesifik. “Ini sebenarnya pengetahuan mendasar tapi memang pemberian pemahaman harus dilakukan rutin pada tenaga medis.” (IZn – persi.or.id)