PERSI Kecam Penganiayaan Perawat, PPNI Tegaskan Pentingnya Perlindungan dari Pemerintah dan RS

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) mengecam tindakan penganiayaan terhadap perawat di RS Siloam Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan.

“PERSI mengecam, menyesalkan dan tidak dapat mentolerir segala bentuk kekerasan dan perlakuan tidak menyenangkan yang dilakukan oleh siapapun terhadap tenaga rumah sakit saat menjalankan tugasnya,” ujar Ketua Umum PERSI, dr Kuntjoro Adi Purjanto M.Kes dalam keterangan yang diterima, Minggu (18/4/2021).

Sebelumnya, Kristina Ramauli, perawat RS Siloam Sriwijayadiduga dianiaya orang tua salah satu pasien pada Kamis, 15 April 2021. Video dugaan penganiayaan itu viral di media sosial. Korban ditampar, ditendang dan dijambak serta dibentak pelaku berinisial JS.

Kristina telah melaporkan kejadian itu ke Polrestabes Palembang. Korban menjelaskan awalnya pelaku JS memanggil dan meminta korban untuk menemuinya di lokasi. Saat itu korban mendatangi pelaku dengan ditemani saksi yakni rekan kerjanya, CH.

Menurut pengakuan korban, korban ditanya oleh pelaku mengenai infus yang dicabut dari tangan anaknya, belum sempat dijawab dia langsung menampar wajah sebelah kiri. Laporan penganiayaan di Siloam ini telah diterima petugas SPKT Polrestabes Palembang dan pelaku kini sudah ditangkap dan ditetapkan menjadi tersangka.

Kuntjoro menegaskan, pelayanan kepada seluruh pasien di rumah sakit harus terlaksana dengan kepercayaan tinggi kepada rumah sakit seperti tertulis dalam kesepakatan atau informed consent sebelum menjalankan perawatan. Tujuannya, upaya penyembuhan dapat berjalan dengan baik, aman dengan penuh tanggung jawab oleh seluruh tenaga yang terlibat langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan pasien.

“Standar layanan rumah sakit sangat jelas mencantumkan bahwa harus ada perlindungan hukum untuk tenaga Kesehatan dan tenaga medis serta perlindungan terhadap kekerasan yang terjadi, baik dalam kondisi apapun. Pasal 50 Undang-undang Praktik Kedokteran juga menyebutkan setiap dokter dan dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran berhak mendapatkan perlindungan hukum. Demikian pula berdasarkan Pasal 36 Undang-undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan mencantumkan Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berhak memperoleh perlindungan Hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan”.

“PERSI menyediakan bantuan advokasi hukum dan pendampingan bagi rumah sakit yang membutuhkan agar semua permasalahan dapat diselesaikan dan ditegakkan seadil-adilnya. Kami pun mengimbau masyarakat agar lebih memberikan empati kepada tenaga rumah sakit yang sedang melayani pasien dengan segala risiko mereka dan membantu terlaksananya seluruh keputusan medis sesuai kaidah kompetensi, alur dan ketentuan rumah sakit. Selayaknya faktor komunikasi harus selalu diterapkan sebagai budaya bangsa kita,” paparnya.

Dukungan serupa bagi perawat Kristina Romauli juga diungkapkan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang mengecam tindakan penganiayaan terhadap perawat Rumah Sakit Siloam Sriwijaya Palembang. PPNI meminta pelaku dihukum berat sesuai dengan Undang-Undang.

“PPNI melakukan pengawalan dan pendampingan perawat pada kasus ini agar sesuai dengan koridor hukum dan pelaku dihukum seberat-bertanya sesuai hukum yang berlaku,” kata Ketua Umum PPNI Harif Fadhillah lewat keterangan tertulis, Jumat, 16 April 2021.

Harif mengatakan peristiwa penganiayaan terhadap tenaga kesehatan bukan sekali ini saja terjadi. Untuk mencegah kejadian terulang, Ia meminta pemerintah dan pimpinan fasilitas kesehatan menjamin lingkungan kerja yang kondusif bagi perawat. Ia juga meminta pihak fasilitas pelayanan kesehatan menjamin tidak terjadinya kekerasan baik fisik maupun psikologis kepada perawat. (IZn – persi.or.id)