PERSI dan Oracle Sosialisasikan Komputasi Awan Bagi Rumah Sakit

Transformasi digital yang berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence serta komputasi awal (cloud) akan membantu rumah sakit di Indonesia menghadapi pandemi serta pascapandemi. Di masa pascapandemi, diperkirakan praktik medis berbasis digital telah menjadi bagian dari praktik sehari-hari rumah sakit karena masyarakat pun telah terbiasa. Pun, lonjakan pasien yang akan datang kembali ke rumah sakit bisa ditangani dengan baik dengan pelibatan teknologi digital.

Demikian terungkap dalam Webinar Healthcare Tranformation: Digital Innovation to Unlock New Opportunities yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) bersama Oracle, hari ini, Sabtu (24/4).

Ketua Umum PERSI dr. Kuntjoro Adi Purjanto M.Kes yang membuka Webinar itu mengungkapkan kini kalamngan rumah sakit telah mengalami surge capacity atau lonjakan kapasitas karena adanya Covid-19. Akibatnya, terjadi perubahan prilaku yang terjadi di kalangan masyarakat, pemerintah juga rumah sakit. Teknologi digital di bidang kesehatan mengalami perceopatan.

“Inovasi ini juga menjadi faktor pendukung rumah sakit di Indonesia bertahan, selain juga karena di negeri ini pemerintah juga berkontribusi di bidang kesehatan, ada dana pemerintah yang berkontribusi. Jika tidak, rumah sakit akan sakit dan tutup, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dilaporkan ada 42 rumah sakit yang tutup karena bangkrut,” kata Kuntjoro.

Kuntjoro bahkan optimistis, industri rumah sakit kini tengah mulai bertumbuh ketika vaksinasi mulai berjalan. “Ini luar biasa, tekanan ini memacu kita berbuat yang terbaik. Dalam proses itu kita harus terus memberlakukan prinsip absorb, adopt dan transformasi, harus berani melakukan disrupsi dan inovasi.”

Dr. Roberia, SH, MH dari Kompartemen Hukum, Advokasi dan Mediasi Pengurus Pusat PERSI pada sesi paparannya mengakui hingga saat ini digitalisasi rumah sakit, termasuk implementasi rekam medis elektronik belum diatur secara mendetail oleh pemerintah.

“Sehingga saya sarankan sambil menunggu aturan yang lebih jelas, yang sebaiknya diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, secara internal apsek-apsek itu bisa diatur oleh rumah sakit sendiri. Tidak perlu takut melangkah karena perubahan adalah keniscayaan. Agar hukum tidak tertinggal, maka kita bersama harus memberi bahan-bahan kebijakan tersebut kepada pemerintah, termasuk nanti memberikan contoh praktik terbaiknya. Harus ada kolaborasi antara ahli hukum dan bidang kedokteran,” ujar Roberia.

Langkah itu juga dipaparkan Chief Information Officer Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang juga anggota Kompartemen Pusat Data dan Informasi PERSI Dr. Agus Mutamakin, MSc menyatakan, kini RSCM menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dengan mengambil model dari praktik terbaik yang dilakukan rumah-rumah sakit di negara yang sudah maju.

“Kini kami juga mempertimbangkan penggunaan komputasi awal dalam kebijakan digital yang kami berlakukan,” ujar Agus.

Sementara, Principal Solution Consultant Oracle Mohammad Rizal Arryadi memaparkan pihaknya menawarkan layanan layanan komputasi awan lebih ke aspek manajemen yang membuat pengambilan keputusan lebih akurat dan cepat, walaupun di negara-negara lain penggunaan komputasi awan Orcale digunakan untuk seluruh aspek baik medis maupun manajemen rumah sakit.

Pasalnya, hingga kini pihaknya kini belum memiliki rencana untuk membuka fasilitas komputasi awan khusus untuk memfasilitasi rumah sakit, terutama untuk mengantisipasi regulasi tentang penempatan data medis. “Ada beberapa pertimbangan, mulai dari kestabilan koneksi, listrik dan posisi Indonesia yang dikelilingi gunung api. Sehingga, untuk rumah sakit di Indonesia, maka

Penggunaan komputasi awan dalam manajemen rumah sakit, kata Rizal, akan memungkinkan kolaborasi antar pihak-pihak yang terlibat dalam operasional rumah sakit. “Prinsip utama komputasi awan adalah sistem ini tidak akan meledak, semua pihak bisa memanfaatkan dan terhubung. Analisa keuntungan bisa dilakukan lebih akurat, begitu pula pemnghitungan biaya pun presisi,” kata Rizal yang juag membuka kesempatan berdiskusi dengan rumah sakit terkait solusi yang mereka tawarkan. (IZn – persi.or.id)