PERSI dan Darya Varia Selenggarakan Webinar, Kupas Implementasi Kecerdasan Buatan dan RS Pintar

Berbagai isu tentang digitalisasi kesehatan seperti sistem rumah sakit (RS) pintar (smart hospital) serta penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dikupas dalam Hospital Management Webinar “Digital Transformation in Healthcare Industry, Opportunities and Challenges.” Webinar yang diselenggarakan melalui Zoom dan platform Kitras itu diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan PT Darya Varia Laboratoria Tbk, Sabtu (24/9).

Diskusi tentang berbagai inovasi digitalisasi itu juga ditarik dalam konteks RS di Indonesia serta situasi pandemi yang telah mengakselerasi digitalisasi. Pembicara yang dihadirkan adalah Dosen Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD yang memaparkan topik “The Potential of Artificial Intelligence Implementation in Hospital Management.” Selain itu, berbicara pula Direktur Utama RSUI DR. dr. Astuti Giantini Sp. PK (K), MPH dengan paparan berjudul “Beyond Boundaries: The Journey to the Smart Hospital in the Future” serta Ketua Research Group, Artificial Intelligence and Digital Health IMERI FK UI, Staf Medis & Pengajar, Divisi Respirology dan Penyakit Kritis, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM – FK UI dr. Eric Daniel Tenda, DIC, PhD, Sp.PD, FINASIM yang membahas “AI dan Digital Health in Medicine: Hype or Hope?

Acara dibuka sambutan Group Product Manager Critical Care Division dr. Dicky Hermawan Taslim yang menekankan dukungan yang diberikan pihaknya bagi RS dan tenaga medis untuk mendukung implementasi digitalisasi. “Pandemi masih berlangsung baik di dunia dan Indonesia. Pandemi telah melemahkan sendi-sendi kehidupan dan mengubah cara hidup kita, lebih melibatkan dunia digital, termasuk industri kesehatan. Kita perlu mempersiapkan diri mendorong percepatan transformasi digitalisasi di pelayanan kesehatan,” kata Dicky.

Dicky memaparkan, RS sebagai salah satu institusi layanan kesehatan perlu melakukan transformasi agar layanannya lebih mudah dijangkau pasien dimana pun mereka berada. “Fenomena smart hospital di dunia medis membuat RS harus siap berubah agar alur registrasi hingga treatment semakin mudah. Tentunya dalam proses itu RS berhadapan dengan tantangan terkiat regulasi, standardisasi SDM an keamanan data untuk mendukung kualitas tenaga kesehatan. Kami berupaya mendukung, di natarnya dengan menyelenggrakan kegiatan ini,” ujar Dicky.

Sementara, Ketua Umum PERSI Sementara, Ketua Umum PERSI dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS memaparkan, digitalisasi kesehatan telah menjadi isu yang akrab bagi kalangan RS, terutama 2 hingga 3 tahun terakhir. “Sehingga webinar ini menjadi kesempatan yang sangat baik. Topik ini sangat bermanfaat karena saat ini mmebahas produktivitas dan efisiensi tidak hanya mengenai utilitas, namun juga mutu. Tranformasi digital akan berdampak pada aspekmutu dan utilitas,” kata Bambang.

Intervensi digitalisasi, kata Bambang, juga dapat mengatasi kasus Kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD) di RS yang berdasarkan laporan keselamatan pasien, sebanyak 39% kasusnya berhubungan medication error. Kondisi serupa juga terjadi di negara maju, 1 dari 10 pasien atau 30-40% pasien mengalami under use atau over use saat mendapat layanan.

Namun, lanjut Bambang, isu digitalisasi ini juga digadapkan pada kemampuan RS di Indonesia yang sangat beragam. Pada survey yang dilakukan PERSI sekitar 6 bulan lalu pada 500 RS, ternyata terdapat 8-9% RS yang belum sama sekali belum menerapkan digitalisasi. Sedangkan yang telah mengimplementasikan, sebanyak 40-50% masih berada di area back office, sedangkan yang sudah mencapai area front office adalah 8-10%.

“Ke depan PERSI akan melakukan mentoring terkait digitalisasi, RS yang memiliki kemampuan lebih akan membagikan pengalamannya pada RS yang masih merintis.”

Pada sesi paparan, Laksono menjelaskan, Survey Cepat PERSI 2022 menunjukkan inovasi digital di RS masih belum kuat. Namun, di RS dihadapkan pada lingkungan sistem kesehatan yang dinamis, yang juga dipacu kondisi pandemi. “Mulai regulasi yang selalu berubah, kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, pola penyakit dan teknologi.”

Lebih lanjut Laksono mengupas tentang RS yang menjadi pembaharu dalam implementasi kecerdasan buatan (AI) atau early adopters. RS jenis ini harus mempunyai dana untuk riset dan pengembangan, SDM yang kompeten, mempunyai data yang baik, sebaiknya big data serta didukung pemilik.

Sementara, Astuti menjelaskan, RS UI kini menerapkan sistem smart hospital yaitu RS yang mengkombinasikan teknologi terkini, didukung dengan artificial intelligence (AI), internet of things (IoT) dan robotik, yang interkoneksi dalam platform digital. Tujuannya, pelayanan terbaik dapat diberikan di dalam ekosistem kesehatan, serta bersifat human-centered.

“Kami menerapkan SIMRS Terintegrasi yang terdiri atas Registrasi Online, rekam medis elektronik, PACS dan Layanan Rodiologi Terintegrasi, LIS dan Layanan Laboratorium Terintegrasi, ICU Central Monitoring System serta Pembayaran Host-2-Host (H2H). Sementara sistem Smart Hospital terdiri atas AI Imaging System, 3D monitoring COT, Sistem Informasi Supply Chain Berbasis AI, Monitor Kesehatan berbasis IoMT dan AI, Telemedisin dan Telekonsultasi serta Robotic Biopsi di Urology,” kata Astuti. (IZn – persi.or.id)