PERSI dan ARRSI Gelar Webinar Investasi Alat Kesehatan Pascapandemi

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyelenggarakan Webinar bertema MedTech Investment For A Post-Pandemic World bekerjasama dengan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Seluruh Indonesia (ARSSI), LBBW, Siemens, Drager serta BBraun, hari ini Selasa, 2 Februari 2021.

Ketua ARSSI drg. Susi Setiawaty, MARS saat membuka acara yang diikuti sedikitnya 150 rumah sakit itu memaparkan RS swasta sangat terdampak oleh pandemi, baik dalam pelayanan rawat jalan maupun inap, walaupun mulai kuartal empat 2020, sudah mulai terlihat peningkatan kunjungan pasien non Covid-19. “Karena mungkin mau tidak mau, masyarakat butuh berobat ke rumah sakit,” kata Susi.

Susi juga menyatakan, rumah sakit kini juga menghadapi tantangan terkait insentif pajak untuk obat dan alat kesehatan terkait Covid-19 yang dinilai perlu diperpanjang masa berlakunya seiring dengan kondisi pandemi yang belum menunjukkan perbaikan. “Harapan kalangan perumahsakitan adalah vaksin ini akan membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok, semoga proses ini bisa terdistribusi dengan lancar dan baik. Memang secara umum 2020 itu sangat berat bagi RS swasta dengan pertumbuhan Indonesia -2,4%, mudah-mudahan 2021 ada pertumbuhan walaupun WHO sudah menyatakan Covid-19 akan ada terus,” ujar Susi.

Kondisi 2020 yang sulit bagi rumah sakit, kata Susi, membuat pihaknya kesulitan melakukan investasi terkait peralatan rumah sakit. “Selama pandemi, kebanyakan rumah sakit hanya membeli ventilator dan PCR, tapi ke depan dengan kondisi yang lebih baik seiring vaksinasi dan pertumbuhan ekonomi, rumah sakit mulai bisa berinvetasi di alat kesehatan untuk menambah peluang menambah pelayanan. Kita harapkan pula, harapan ini dibarengi proses klaim ke BPJS Kesehatan dan perawatan Covid-19 bisa lancar agar keuangan rumah sakit membaik,” kata Susi RS.
Susi juga memaparkan sejumlah agenda pascapandemi yang disusun ARSSI yang terbagi atas pemulihan pelayanan Kesehatan serta perbaikan dalam kinerja dan keuangan, termasuk invetasi peralatan dan fasilitas rumah sakit.

Dalam pemulihan pelayanan, Susi menyatakan ARSSI mengagendakan penguatan tata Kelola dan standardisasi pelayanan. “Tata kelola dan standarsisasi pelayanan terdiri atas redesain pelayanan agar aman bagi pasien, pengunjung dan tenaga Kesehatan. Kemudian, redesain fasilitas berupa zoning Rasio tempat tidur serta ventilasi. Selain itu, akan dilakukan penguatan sumber daya dan sistem rumah sakit, pembenahan pada persediaan alat medis, alat pelindung diri, obat dan logistik lainnya. Agenda lainnya, pemenuhan kebutuhan SDM dan pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi yang lebih optimal.

Jonathan Lou dari Siemens Healthineers Indonesia yang melakukan survey pada peserta Webinar mengomentari jawaban bahwa sedikitnya 28 peserta menjawab mereka harus menunda investasi peralatan kesehatan dan tidak ada yang menjawab bahwa investasi masih bisa dilakukan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di seluruh dunia, sehingga para pemangku kepentingan di industri alata kesehatan di Jerman kemudian melakukan sinergi untuk melahirkan solusi bagi kalangan perumahsakitan.

Kolaborasi itu, kata Markus Leichum dari German Export Finance melibatkan Siemens yang dikenal terutama di bidang pencitraan diagnose dan radiologi, ultrasound serta radiologi intervensi. Merek lain yang terlibat, Drager yang dikenal dalam teknologi anastesi, monitoring ventilasi dan pernafasan serta monitoring pasien dan IT. Ada pula, Braun yang dikenal dengan teknologi ambulatori, operasi dan renal.

Pengadaan teknologi-teknologi itu, kata Leonard Anilaputra Eggert dari LBBW dapat difasilitasi oleh lembaga keuangan juga dari Jerman. “Istimewanya, tidak perlu ada jaminan karena sudah ada asuransi yang menaunginya dengan sistem pembayaran yang bisa dikompromikan,” ujar Leonard. (IZn – persi.or.id)