Pengurus Pusat, MAKERSI, serta Dewan Pengawas PERSI Dilantik Hari ini

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) hari ini melantik
Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit (MAKERSI), Dewan Pengawas serta Pengurus Pusat PERSI periode 2021-2024. Pelantikan diselenggarakan secara hibrid pada Sabtu (27/11) di Sekretariat PERSI Pusat, Jakarta.

Ketua Umum MAKERSI Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, DFM., S.H., M.Si., Sp.F(K) menyatakan pihaknya akan melanjutkan tugas semua pihak yang mendukung kalangan perumahsakitan menjunjung terus etika Rumah sakit. “Selain kami akan mengembangkan Tim 9, MAKERSI juga akan membentuk 3 Panitia Tetap yakni Etika Interprofesional Sivitas Hospitalia yang akan menangani konflik internal yang terjadi di RS, Etika Spesifik bekerja sama dengan asosiasi dan Etika Kewilayahan bersama Makersi di Provinsi. Kami juga akan menyelesaikan berbagai pedoman, fatwa, termasuk mendukung penerapan etika RS Indonesia mengantisipasi masuknya RS asing,” kata Agus dalam sambutannya.

Agus juga menekankan, implementasi etik diharapkan RS akan menjadi reflektor berbagai kebaikan di masyarakat. Agenda berikutnya, MAKERSI akan menjadikan etika sebagai roh pelbagai bidang pelayanan RS.

Sementara, Ketua Dewan Pengawas PERSI KH. dr. Umar Wahid, Sp.P menyatakan bersama para anggotanya, ia mengemban tanggung jawab sebagai Dewan Pengawas pertama PERSI.

“Kehadiran Dewan Pengawas sangat dibutuhkan bagi suatu organisasi, termasuk PERSI. Dewan Pengawas akan singkron bergerak untuk memperkuat organisasi PERSI,” ujar Umar yang bertugas dalam Dewan Pengawas bersama timnya, di antaranya mantan Ketua Umum PERSI dr. Kuntjoro Adi Purjanto M.Kes.

Selanjutnya, Ketua Umum PERSI dr. Bambang Wibowo, Sp. OG(K), MARS menyatakan kalangan perumahsakitan Indonesia harus siap menghadapi pemberlakuan perdagangan bebas, yang ditandai masuknya RS pemilik modal asing dan tenaga kesehatan asing. PERSI saat ini beranggotakan
2300 RS, sedangkan total RS yang ada di Indonesia mencapai 3.052.

“Kita sebagai insan kesehatan dan masyarakat pada umumnya, ingin agar RS nasional mampu bersaing. Apabila tidak diantisipasi, kondisi persaingan ini justru akan mengakibatkan RS di Indonesia menjadi tamu di negara sendiri. Kita harus antisipasi dan manfaatkan momentum ini sebagai peluang dan tantangan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Bahkan, bisa jadi RS asing ini menjadi mitra RS milik lokal, juga pemerintah dan BUMN,” kata Bambang. (IZn – persi.or.id)