Pengendalian Covid-19 Ditentukan Vaksinasi Serta Kesadaran Virus Itu Ada Walau Tak Terlihat

Kontribusi vaksinasi pada upaya pengendalian Covid-19 berada di urutan pertama, disusul pengaplikasian etika batuk, kebersihan tangan, lingkungan yang bersih dan sehat serta penggunaan alat pelindung diri (APD).

Demikian terungkap dalam Webinar Penanganan Covid-19 dan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) Untuk Perlindungan Tenaga Kesehatan (Nakes) pada Sabtu, 16 Oktober 2021 yang menghadirkan Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Perkumpulan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) Dr. Pancho Hekagery Amilo Kaslam, DRM, MSc. Webinar itu merupakan kerja sama IDI, Projet Hope dan platform Kitras.id.

Pancho membawakan materi berjudul Praktik PPI esensial dalam masyarakat pada situasi COVID-19. “Penyebaran infeksi dapat dicegah dan dikendalikan, termasuk Covid-19 dengan cara: mematuhi praktik pencegahan Pengendalian Infeksi berdasarkan bukti ilmiah, tetap waspada dan senantiasa menjaga kebersihan serta menerapkan ‘patient safety’ pada pemberian layanan di fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Pancho.

Vaksin, kata Pancho, telah menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Vaksin bekerja secara melatih dan mempersiapkan pertahanan alami tubuh – sistem kekebalan – untuk mengenali serta melawan virus dan bakteri yang memasuki tubuh. Setelah vaksinasi, tubuh akan lebih mampu untuk melenyapkan atau mencegah terjadinya penyakit infeksi,” kata Pancho.

“Vaksinasi penting untuk disegerakan untuk memberikan perlindungan terhadap keparahan dan kematian akibat infeksi COVID-19, meskipun tidak ada vaksin yang dapat melindungi 100%. Sebagian besar vaksin yang tersedia adalah vaksin dua dosis. Dosis kedua membantu meningkatkan respons kekebalan dan memperkuat kekebalan. Walaupun telah divaksinasi, tindakan pencegahan harus tetap dilakukan.”

Guna mengintesifkan vaksinasi, kata Pancho, dibutuhkan pemahaman bahwa infeksi itu tidak terlihat. “Penyebabnya, infeksi itu terlalu kecil untuk dapat dilihat, dampaknya tidak segera terlihat, banyak faktor penyebabnya, paradigma keliru, jarang terjadi serta tidak diperlihatkan.”

Untuk itu, lanjut Pancho, dibutuhkan edukasi berkelanjutan dalam pemberian layanan profesional dan masyarakat umum. “Teknik penyampaian perlu dilatih berulang-ulang hingga mahir dengan teknis yang efektif.” (IZn – persi.or.id)