Pascapengampuan RS PON, RSUP Prof. dr. I Gusti Ngoerah Bali Sukses Lakukan Tindakan Coiling

Sistem pengampuan yang dilakukan RS rujukan kepada RS di daerah untuk mencegah antrean pasien di RS rujukan telah membuahkan hasil. RSUP Prof. dr. I Gusti Ngoerah Bali sukses menerapkan teknologi terkini dalam penanganan stroke setelah melalui proses pengampuan dari RS Pusat Otak Nasional Prof. DR. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RS PON). Selanjutnya, program pengampuan diharapkan bisa dilanjutkan RSUP I Gusti Ngurah terhadap sejumlah RS di kabupaten/kota di Bali dan RS di NTB maupun NTT.

“Selamat atas terselenggaranya Tindakan coiling di RS Ngoerah. Di sisa waktu saya sebagai Menkes ingin sekali menyelesaikan transformasi pilar kedua yaitu transformasi sistem layanan rujukan. Kami ingin memastikan bahwa seluruh RS di kabupaten/kota dan provinsi bisa melayani standar layanan kesehatan tertentu. Stroke merupakan penyakit yang menyebabkan kualitas hidup seseorang menjadi buruk. Jumlah kasus meninggal bisa mencapai ribuan setiap tahun dengan kasus kecacatan bisa lebih tinggi 2 kali lipatnya,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Senin (26/12).

Budi meminta RS PON untuk terus mengaktifkan fungsi pengampuannya degan target 34 provinsi harus bisa melakukan bedah otak terbuka serta 514 kabupaten/kota bisa melakukan intervensi non bedah seperti coiling.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Nyoman Gede Anom mengatakan stroke ini adalah satu dari 4 penyebab kematian terbanyak sehingga RSUP Ngoerah harus mampu melakukan pengampuan terhadap RS di kabupaten/kota di Bali. ”Kami ada 9 kabupaten/kota yang memiliki RS Madya dan satu RS Provinsi.

Sementara, Direktur Utama RS PON Mursyid Bustami mengatakan, program pengampuan dialkukan pada sejumlah RS di daerah. “Secara garis besar penyebab stroke karena penyumbatan pembuluh darah dan pecahnya pembuluh darah. Sebagian dari yang pecah pembuluh darah itu disebabkan pecahnya aneurisma yaitu satu titik lemah yang membentuk kantong di pembuluh darah di otak yang memang sudah ada dan suatu saat bakal pecah. Penyebab pecah terbanyak adalah karena tegangan darah tinggi,” kata Mursyid.

“Pada pasien beresiko tentunya untuk menghindari risiko terjadinya pecah pembuluh darah, harus dilakukan suatu tindakan. Ada dua tindakan, pertama, coiling dengan memasukkan koil, kawat atau benang ke dalam kantong yang bakal pecah. Kedua, clipping atau melakukan klip (penjepitan). Yang hari ini dilakukan adalah coiling yang memerlukan SDM dan sarana prasarana yang memadai. Di RSUP Ngoerah ini alatnya sudah ada, kamar cathlab-nya juga sudah memenuhi syarat, dan SDM-nya ada. Pasien yang mengalami coiling kali ini berasal dari Nusa Tenggara Timur dari Lembata,” tutur Mursyid. (IZn – persi.or.id)