Pada Webinar PERSI tentang Tata Ruang dan Tata Udara, RS Persahabatan Tegaskan APD Adalah Perlindungan Terakhir

persi gardamedika web120920

persi gardamedika web120920

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyelenggarakan Webinar Adaptasi Tata Ruang dan Tata Udara Ruang Isoalasi Rumah Sakit (RS) di Masa Pandemi Covid-19, pada Sabtu (12/9).

dr. Cahyarini Dwiatmo, SpMK(K), Ketua Komite Pusat Pengendalian Infeksi (PPI) RSUP Persahabatan yang menjadi salah satu narasumber memaparkan tentang Best Practice Sharing: Adaptasi Tata Ruang & Tata Udara Ruang Isolasi RSUP Persahabatan di Masa Pandemi Covid-19.

“Engineering control, Administratif control dan personal protective equipment (PPE) atau APD, adalah 3 tahapan resiko yang paling dapat dilakukan dari tahapan pengendalian risiko bahaya infeksius covid-19. Engineering control merupakan salah satu cara yang efektif, meskipun bukan cara yang paling efektif atau eleminasi karena corona virus masih ada disekitar kita dan tidak bisa ganti bahayanya dengan virus lain atau subtistusi. Sedangkan administratif control, salah satu upaya pengendalian dengan perubahan perilaku kerja/ petugas. Berikutnya, APD sebagai pertahanan terakhir,” ujar Cahyarini.

persi garda medika web12092

Engineering control, kata Cahyarini, berwujud rekayasa fasilitas tata udara tingkatan urgensinya lebih tinggi dibanding APD serta zonasi, strategi dalam mengisolasi hazard agar tidak mudah menyebar ke orang lain. Semua upaya itu memerlukan kolaborasi dengan tim lain untuk mendapatkan hasil terbaik demi keamanan dan kenyamanan petugas.

Terkait tata udara, Cahayarini memaparkan rekomendasi WHO tentang kecukupan ventilasi di layanan kesehatan pada saat pandemi. Alternatifnya, ventilasi alami dengan aliran udara minimal 160 liter per detik per orang. Opsi lainnya, ruang perawatan bertekanan negatif dengan pergantian udara minimal 12 kali per jam dan arah aliran udara yang terkendali saat menggunakan ventilasi mekanis.

Sedangkan di ruang berkriteria AII (Airborne Infection Isolation), Cahyarini merinci persyaratan yaitu bertekanan negatif, perbedaan tek. -10 s/d -15 Pascal dan minimal -2,5 Pascal, pasokan udara keluar minimal >10% dari udara masuk dengan ACH ≥ 12 Kali serta arah Laminer udara bersih ke kotor. Selain itu, sistem nonresirkulasi 100% udara segar, sistem Resirkulasi degan Hepa Filter Eff. 99,75% @ 0,3 Micron, suhu ruang 21 – 24 Celcius, kelembaban 50 ± 10%, udara Buang tinggi 3 meter permukaan bangunan tertingi di radius 10 meter tidak ada aktifitas serta akses terbatas di lingkungan zona infeksius.

“Ruang Isolasi Khusus di RS kami, semula hanya ada di IGD dan Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-emerging Disease (PINERE). Kini, di IGD, ICU, PINERE, Soka Bawah, Melati Atas & Bawah, Mawar Atas & Bawah, Bougenville Atas & Bawah, Cempaka Atas & Bawah, sehingga kami melakukan renovasi atas ruangan-ruangan yang sebelumnya bukan isolasi agar memenuhi syarat.” 

Ditetapkan menjadi RS Rujukan Covid-19 sejak awal, Cahyarini menegaskan pihaknya terus rutin melakukan monitoring dan evaluasi untuk memastikan kondisi RS aman bagi pasien dan tim RS.(IZN – persi.or.id)