Menurut Menkes, Inilah Sikap yang Harus Dilakukan Dokter untuk Berkontribusi Atasi Defisit JKN

terawan jkn

terawan jkn

Jakarta – Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyoroti perilaku sebagian dokter yang dinilainya berlebihan dalam menangani pasien sehingga membuat biaya klaim rumah sakit (RS) ke BPJS Kesehatan membengkak.

Terawan mencontohkan, data BPJS Kesehatan pada pembiayaan penyakit jantung sepanjang 2018 mencapai Rp10,5 triliun dan tindakan operasi sectio caesarea yang dinilainya terlalu banyak.

“Data BPJS Kesehatan tentang perbandingan kelahiran operasi caesar dengan kelahiran normal sebesar 45%, padahal menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) idealnya 20%,” ujar Terawan dalam acara pertemuan dengan pelaku industri farmasi dan
alat kesehatan di Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin (25/11).

Menkes mengingatkan, pelayanan kesehatan yang diberikan dokter kepada pasien, sesuai undang-undang, bersifat optimal, bukan maksimal.

“Pelayanan kesehatan yang maksimal justru bisa membahayakan keselamatan pasien. Kalau memang tidak perlu dikerjakan, jangan dikerjakan, kalau itu maksa artinya membahayakan pasien. Setiap tindakan punya konsekuensi risiko pada pasien, dan itu sebenarnya bisa mencelakakan pasien untuk tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar,” kata Terawan.

Terawan menegaskan, jika kecenderungan memberikan pelayanan berlebihan itu bisa dihilangkan, maka klaim terhadap BPJS Kesehatan tidak akan membengkak seperti saat ini sehingga memicu defisit.

“Saya memahami betul hal ini karena sebelum menjabat Menteri Kesehatan, sehari-hari adalah dokter yang juga melayani pasien, sehingga memahami hal-hal yang terjadi di lapangan. Saya yakin dokter-dokter membela diri, wah ini saya sudah sesuai aturan. Loh, saya dokter fungsional, saya ini dokter beneran, saya melayani pasien, jadi sama-sama tahu lah.”

Untuk itu, lanjut Terawan, dibutuhkan penyadaran ke teman-teman semua, farmasi akan senang, ikut mendoakan supaya dokter-dokter
kita berbuat sesuai dengan kaidah-kaidah yang tepat, memberi terapi yang optimal.” (IZn-persi.or.id)

baca artikel