Menkes: Agar Beban RS Berkurang, Maksimal Penularan 1 Banding 1 Bahkan Lebih Kecil.

Penularan infeksi COVID-19 diharapkan bisa ditekan seminimal mungkin agar beban rumah sakit bisa berkurang. Jika kasus konfirmasi positif turun, dipastikan tekanan di rumah sakit turun, maksimal 1 banding 1 atau bahkan lebih kecil.

Jika perhatian hanya terfokus pada rumah sakit, strategi itu akan memicu kematian nakes gara-gara terinfeksi dan pasien penuh. “Harusnya diberesi dari intel di surveilansnya atau di hulunya, itu yang harus cepat, sehingga laju penularan turun.

“Targetnya, kalau 100 konfirmasi, 80 orang cukup dirawat di selter atau tempat isolasi mandiri saja dan 20 orang harus masuk rumah sakit, itu kalau 100 kasus. Berikutnya, kalau misalnya 1.000 kasus maka rumah sakit cukup menangani 200 orang dan begitu seterusnya,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Budi Gunadi menegaskan, semakin banyak kasus konfirmasi maka akan menjadi beban dan masalah bagi rumah sakit tersebut. “Laju penularan harus bisa turun, saya pingin di bawah satu, satu orang nularin 0,8 atau 0,6, artinya tiga orang nulari dua, atau empat orang nulari tiga,” kata Menkes dalam kunjungan kerja meninjau upaya penanganan COVID-19 di Puskesmas Bambanglipuro Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kemarin, Senin (2/1).

“Jangan empat orang menulari empat, atau empat bahkan menulari 40 orang, itu bahaya. Dan tadi saya lihat tiga orang konfirmasi dilacak nulari tiga orang, itu masih satu banding satu,” kata Menkes.

“Perlu disiplin teman-teman di Puskesmas untuk tracing ada aturannya 30 per 100 ribu populasi, jadi kira-kira butuh 80 ribu se-Indonesia, bagaimana caranya? paling cepat pakai Bhabinkamtimas dan Babinsa karena di desa-desa.”

Menkes mendorong upaya Pemkab Bantul dalam rangka Penguatan Puskesmas Bambanglipuro dalam Akselerasi Testing, Tracing, dan Treatment (3T) dengan dukungan keterpaduan tenaga kesehatan, TNI/Polri dan pemberdayaan masyarakat guna menurunkan laju penularan kasus COVID-19. Di antaranya, dengan pelibatan Bhabinkamtibmas dan Babinsa, karena aparat TNI dan Polri tingkat desa itu yang mengetahui kondisi di daerah masing-masing wilayah. (IZn – persi.or.id)