Memimpin RSPI Melewati Krisis, Kini Kawal 2 RS Sekaligus

Kualitas kepemimpinan akan teruji di masa krisis, Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Prof. Dr. Sulianti Saroso, Dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH, telah membuktikannya. Memimpin RS yang merawat pasien pertama Covid-19 di Indonesia, mengawal lonjakan kasus, mengatasi kekurangan alat pelindung diri (APD) hingga melakukan akselerasi koordinasi dengan institusi terkait dilakukannya sejak Maret 2020 hingga kini RSPI dipercaya menjadi pusat penelitian dan pelatihan penyakit emerging.

Tantangan berikutnya, sejak Juni 2021, Syahril juga dipercaya menjadi pelakasana tugas Direktur Utama RS Umum Pusat (RSUP) Persahabatan. Ia kini membagi waktu dan perhatiannya untuk dua institusi untuk terus berkembang di masa pandemi. Di saat yang sama, ia pun berkontribusi buat Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) sebagai Ketua PERSI Sumatera Selatan juga tergabung dalam kepanitiaan PERSI Award.

Persi.or.id mewawancarai Syahril di ruangannya pada Senin (11/10) untuk menggali lebih banyak kiat kepemimpinan hingga kisahnya sebagai penyintas Covid-19.

Bagaimana pembelajaran yang Anda dan RSPI dapat dalam alur perjalanan penanganan Covid-19?
Saya mulai pada 2020, dimulai dari suatu kehebohan di awal Januari di seluruh dunia. Dunia heboh, di sana sini sudah ada yang positif, lalu muncul kekuatiran, benar nggak sih ada kasus. Begitu pula di Indonesia, orang-orang panik, seperti menunggu bisul mau pecah.

Itu heboh pertama, sebelum kasus Covid-19 terjadi di Indonesia. Masyarakat panik, pejabat panik, tenaga kesehatan panik, masih serba menduga-duga.

Akhirnya, ketika diumumkan oleh Presiden, dan pasien dirawat di RSPI, bisa dibayangkan, semua orang makin panik dan heboh. Termasuk, pegawai di sini, karena mereka juga manusia, ada rasa takut juga.
Setelah itu, makin tambah kasus, wartawan setiap hari datang ke sini, tiap hari mereka menunggu, kadang pertanyaannya nyeleneh. Tapi, saya jadikan mereka teman, saya dirikan media center, berikan mereka kopi, tapi saya bilang, jangan terus minta berita ya, ada jam-jamnya saya ngomong.

Kemudian, tentu kita ingat, masker langka, APD langka. Bagaimana saya harus mengatasi dan menjamin ketersediaan kebutuhan itu padahal pasien naik terus, sementara saat itu hanya ada 11 tempat tidur bagi pasien Covid-19. Ketika kasus naik terus, saya putuskan, RSPI kemudian tidak boleh menerima pasien nonCovid-19.

Tempat tidur yang kami sediakan naik terus, dari 11 menjadi puluhan, dari puluhan terus naik sehingga lalu muncul kebutuhan tenaga Kesehatan dan kami membuka rekrutmen relawan. Kami pun harus menyiapkan RSPI menjadi RS khusus Covid-19. Saat itu, kami minta relawan 50 orang, yang datang hanya 10.

Tantangan berikutnya, stigma, bukan hanya antar masyarakat tapi juga menimpa tenaga kesehatan. Banyak perawat tidak bisa pulang, sehingga kami harus mencarikan tempat tinggal mereka. Keluarganya takut atau tenaga kesehatannya yang kuatir menularkan sehingga mereka pulang ke hotel, kita biayai semua.

Di tahapan ini, tantangannya bagaimana kami harus care, mencari solusi ketika mereka terstigma, bagaimana mencari solusi mengatasi kekurangan SDM. Tentu dibutuhkan leadership yang strong.

Soal relawan, masih ingat kan ya, jumlah relawan tidak cukup. Lalu, muncul kasus kematian pada tenaga kesehatan, IDI ribut, PERSI ribut. Kami sendiri harus menyakinkan tenaga kesehatan juga keluarganya tentang pentingnya kontribusi mereka.

Disusul, isu insentif, ketika ternyata sempat tidak keluar. Lagi-lagi butuh kepemimpinan untuk menyakinkan tim dan mencari solusi.

Lalu, kasus pada Desember sempat turun, namun Juni 2021 kemudian melonjak dan di saat yang sama, saya ditunjuk jadi pelaksana tugas Direktur Utama RSUP Persahabatan. Saat itu kasusnya sangat tinggi, sampai tiga kali lipat. Semua RS bahkan mengalami kekurangan oksigen, obat, tempat hingga memasang tenda.

Saat itu, bagaimana dalam waktu yang singkat, harus menyediakan tempat tidur tambahan, pasien sudah ada di lorong-lorong. Bayangkan, RS harus antri pasokan oksigen 10 hingga 14 jam dan itu masih bagus karena masih bisa antri, tapi yang paling ditakutkan adalah ketika tim melapor, “Dok, ini kurang dari satu jam lagi, oksigen habis.”

Saya dengan berbagai cara, telepon sana sini, akhirnya belum satu jam, oksigen datang. Lalu, muncul juga kelangkaan obat,. Kapasitas tempat tidur lalu kami naikkan dari 150 menjadi 300. Itu penambahan sangat banyak yang butuh biaya dan waktu.

Itulah perjuangan kami, memimpin di saat krisis, terutama dalam mengelola SDM yang nggak boleh kurang. Padahal, ada saja tenaga Kesehatan yang sakit, sehingga harus tunggu 2 minggu sebelum bisa masuk lagi, juga ada yang harus dirawat.

Jika kita tidak mampu mengelola semua tantangan itu, kita akan panik, kacau. Ambulans terus berdatangan, bahkan ada pasien yang harus menunggu satu hingga dua jam. Itu terjadi sepanjang Mei hingga Juni. Telepon berdering terus, meminta tolong agar saudara, anak buah bisa masuk dirawat karena saat itu RS penuh, bahkan banyak orang yang meninggal juga di rumah saat isolasi mandiri.

Lalu bagaimana dengan manajemen logistik? Tentu saja sulit di awal masa pandemi, untuk konsumsi saja sulit karena pemasok ketakutan, ada yang bilang, “Bapak ambil saja di tempat kami.” Sehingga terpaksa kami ambil sendiri karena semua orang takut ke sini.

Kiprah kami pun berlanjut ketika muncul varian delta, siapa yang pertama kali menangani? RSPI dikirim satu pesawat dari India yang berisi warganya yang eksodus, semua penumpang dikirim ke sini untuk ditangani.

Kenapa Kemenkes tidak mengirim mereka ke RSPAD gatot Soebroto atau RSUP Persahabatan? artinya ada suatu harapan dan kepercayaan kepada RSPI. Ini adalah berkah bagi kami.

Terkait tenaga kesehatan? Bagaimana Anda mengelolanya?
Kami berusaha menyakinkan, ini kondisi darurat, mengingatkan mereka tentang sumpah dokter. Kami juga memanfaatkan fasilitas konferensi video, Zoom. Saya pegang pimpinan-pimpinan departemennya masing-masing, misalnya penyakit dalam, ada kepala departemen. Saya coba yakinkan, negara yang meminta sumbangsih mereka.

Bagi tenaga kesehatan di RSPI, selain insentif dari Kementerian Kesehatan, kami dari pihak RS juga memberikan tambahan walau tidak sebesar insentif dari pemerintah. Wajar jika RSPI memberikan tambahan, karena di sini berbeda dengan RS lain yang bukan rujukan, kasusnya lebih banyak dan berat.

RSPI juga memberikan insentif tidak hanya bagi tenaga kesehatan, tapi juga tenaga yang tidak dapat insentif dari pemerintah seperti sopir ambulans. Kami juga lakukan tes Covid-19 atau screening rutin sebulan sekali, tapi jika bergejala, langsung akan dilakukan tes. Selain itu, juga ada pasokan vitamin.

Untuk perawat mereka memang hebat ya, luar biasa, para dokter juga sebenarnya sama. Kami ingatkan saat ini negara membutuhkan bantuan mereka. Tenaga kesehatan ini layak disebut pejuang, pahlawan. Saya juga beberapa kali melakukan pendekatan langsung, kita panggil dan berdiskusi.

Bagaimana dengan singkronisasi dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan?
Di awal 2020 memang ada kesulitan terkait data, semua pihak memang belum siap. Tapi, kini Dinas Kesehatan DKI Jakarta pun langsung melakukan penelusuran, termasuk juga koordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan yang makin baik.

Penanganan Covid-19 tidak bisa kita pisahkan dari kontribusi masyarakat yang bergotongroyong membantu RS, bagaimana kisah yang dialami RSPI?
Di awal pandemi, saya tahu kita akan butuh APD dan dana, karena anggaran pemerintah tidak mungkin turun dalam waktu singkat, saya meminta izin kepada Kementerian kesehatan untuk membuka open donation, saya izin dengan KPK, BPK, sehingga resmi diatur.

Untuk sumbangan uang, tidak menggunakan rekening pribadi. Jumlah yang terkumpul sejak Maret hingga sekarang sudah kami tutup, nilainya lumayan. Respons dan insiatif itu luar biasa, saya hampir mau menangis, yang berdonasi itu besar-besar nilanya, tidak mau disebutkan namanya, ada yang Rp100 juta, Rp200 juta, mereka tidak ingin dipublikasikan. Semua donasi dicatat dan dikelola khusus oleh Pokja Donasi, tim khusus RSPI dan sudah diaudit BPK.

Sumbangan makanan sampai membludak, kita sampai nggak bisa menampung lagi, sampai disalurkan kembali ke masyarakat, apalagi di bulan puasa kemarin. Begitu pula APD kita berlebihan hingga gudang kita penuh dan kita buka ruangan lain agar bisa menampung.

Bagaimana dengan kondisi tenaga medis di RSPI, apakah ada yang gugur?
Kita kehilangan dua dokter selama 2 tahun, namun yang sakit banyak tapi kemudian sembuh. Tanpa menghilangkan rasa hormat pada mereka yang gugur, jumlah itu terhitung rendah jika dilihat kondisi RSPI sebagai rujukan. Kondisi serupa juga terjadi pada angka mortalitas pasien sebanyak 12%.

Bagaimana Anda sendiri memetik pembelajaran dari sepanjang peristiwa yang terjadi selama pandemi?
Setiap orang itu ada masanya dan setiap masa itu ada orangnya. Pada saat itu adalah masa saya, artinya Allah memberikan Amanah dan Allah tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan sehingga kita bisa dan akan diberikan kemampuan yang mungkin di luar jangkauan kita.

Allah akan berikan jalan dengan tanpa diduga-duga, begitu ada kesulitan, kita diberi jalan dan yang penting kita melakukannya dengan ikhlas. Di sinilah ujian terhadap leadership.

Bagiamana Anda memupuk keterampilan untuk memimpin dalam situasi krisis?
Sejak mahasiswa saya telah aktif di organisasi, sehingga terbiasa menghadapi stres, awalnya dulu sampai nggak bisa tidur, pening, tapi kini sudah terbiasa mengelola.

Sejak mahasiswa saya telah aktif di organisasi, sehingga terbiasa menghadapi stres, awalnya dulu sampai nggak bisa tidur, pening, tapi kini sudah terbiasa mengelola.

Saat Maret itu apakah Anda sempat stres?
Kalau stres sih nggak, cuma agak lelah dan itu wajar, termasuk ketika menghadapi wartawan. Istri dan anak juga ikut mendukung dengan mengingatkan untuk selalu mandi sebelum berinteraksi dan beraktivitas di rumah.

Pengembangan yang Anda lakukan untuk RSIP?
Sekarang saya giring lembaga ini menjadi center of excellence yang ditetapkan masukkan ke Kemenkes sebagai bagian dari ketahanan kesehatan nasional dengan dasar hukumnya Keputusan Menteri Keuangan, yang ditandatangani Desember.

RSPI menjadi organisasi yang menjadi harapan negara, nantinya akan bertambah di Sumetera, Sulawesi serta wilayah nantinya. Saya menginginkan seluruh pegawai merasa bangga dengan kondisi ini.
Isu global health security kini mencuat, ketahanan kesehatan global suatu negara sangat terkait dengan negara lainnya, nggak mungkin satu negara aman jika yang lain tidak aman. Maka, ada kesepakatan global health security artinya masing-masing negara harus membangun sistem kesehatannya, khususnya untuk penyakit emerging yang belum pernah muncul, belum pernah ada.

Covid-19 kan belum ada dan nanti akan ada lagi penyakit lain, misalnya Covid-25, itu sangat mungkin terjadi, karena pandemi akan ada terus terjadi terus, semoga tidak seperti 1918 yang luar biasa jumlahnya, jutaan orang meninggal. Sedangkan SARS Cov, termasuk emerging tapi belum jadi pandemi global. Ketahanan ini penting supaya tidak seperti kemarin, babak belur karena belum siap.

Kini, keberadaan RSPI bukan cuma pelayanan tapi bertugas melakukan deteksi dini, riset dan diklat pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI). RSPI sudah melatih polisi yang akan bertugas keluar negeri di lokasi rawan seperti ebola, kami fokus pada praktik di lapangan.

Bagaimana memperkuat fungsi litbang itu di tengah kondisi SDM riset kita saat ini?
Memang SDM kita lemah dalam penelitian, semua dokter ingin jadi spesialis, tapi kalau semuanya begitu, nanti orang dan lembaga asing yang akan datang meneliti ke sini. Jangan salahkan jika kondisi itu terjadi, sama seperti jabatan Menteri Kesehatan tidak dijabat dokter, ya karena belum ada dokter yang mampu.

Jadi, peneliti itu harus dijamin dulu supaya nggak mikir, bagaimana dengan kehidupan mereka. Di negera lain begitu, nggak kepikiran lagi praktik, anggaran untuk mereka harus memadai., negara harus hadir.
Bagaimana dengan keikusertaan RSPI dalam PERSI Award?
Kami sudah penuhi persyaratannya, tinggal menunggu hasil akhir, kalau tembus Alhamdulillah, tujuannya bukan cuma PERSI Award, tapi untuk merekam perjuangan kami.

Apa harapan Anda terhadap PERSI?
Saya menjabat Ketua PERSI Sumatera Selatan juga ikut mengawal penyelenggaraan PERSI Award. Harapan kami, PERSI bisa terus mengawal keberadaan RS, membela kepentingan negara dan masyarakat, tidak boleh hanya membela salah satu pihak. Selain itu, PERSI juga perlu lebih dikenal oleh masyarakat luas, seperti IDI misalnya.

Anda masih praktik?
Saya sudah tidak praktik, terakhir saat ini terakhir palembang sewaktu menjabat sebagai Direktur Utama RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.

Lalu bagaimana membagi waktu untuk memimpin 2 RS sekaligus?
Saya memanfaatkan Zoom dan membagi satu hari di RSPI dan RSUP Persahabatan.

Kondisi terakhir kasus Covid-19?
Saat ini (Senin, 11 Oktober 2021), kasus ada 8, namun kondisi pasien sudah lebih baik dibandingkan pada ledakan kedua. Walau begitu, penularan masih harus diwaspadai, pandemi belum berakhir dan sebaiknya jadikan vaksin sebagai persyaratan segala kegiatan.

Kini RSPI dan RSUP Persahabatan sudah terima pasien nonCovid-19, jadi pelayanan sudah berjalan normal, salah satu hikmahnya kami kini terbiasa menggunakan aplikasi.

Anda sendiri penyintas Covid-19?
Ya, saya sempat dirawat dalam kondisi berat di RSPI, salah satu yang terberat adalah keengganan makan dan minum, saya jadi bisa merasakan beratnya Covid-19. Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan bertahan. (IZn – persi.or.id)