Med Verify Keempat Tepis Keraguan RS Lakukan Tindakan TEVAR dan EVAR

peserta medverify rsupadamm

Penyelenggaraan Pelatihan Manual Koding Klaim INA-CBGs Penyakit Jantung Med Verify akan mengikis keraguan rumah sakit (RS) dan dokter jantung untuk melakukan tindakan Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEVAR) dan Endovascular Aneurysm Repair (EVAR), dua prosedur penanganan penyakit jantung. Kedua tindakan yang belum masuk sistem koding BPJS Kesehatan itu selama ini kerap dihindari sebagian RS untuk menghindari dispute klaim.

dirut rsup adammalik

“Saya sendiri pernah melakukan tindakan EVAR dan memang biayanya besar dan dibutuhkan pasien serta di sisi yang lain juga perlu dilakukan RS untuk meningkatkan keterampilan tim medis. Namun, karena untuk klaimnya memerlukan upaya tertentu, maka sempat muncul keraguan apakah berikutnya akan dilakukan tindakan EVAR dan TEVAR ini. Dengan pelatihan ini sekarang jelas, kita bisa belajar dari Pusat Jantung Nasional (PJN) Harapan Kita yang sudah biasa melakukannya dan bisa mengajukan klaim ke BPJS Kesehatan,” ujar Direktur Utama RSUP H.Adam Malik Medan, Sumatra Utara dr. Zainal Safri, SpPD-KKV, SpJP(K) dalam Med Verify keempat, hari ini Selasa (15/9).

Med Verify yang menjadi bagian dari 14 pelatihan di RS seluruh Indonesia kali ini diselenggarakan RSUP H.Adam Malik sebagai tuan rumah. Pelatihan diikuti peserta dari RSUP H. Adam Malik yang terdiri atas direktur RS, Komite Medis, Kepala Panduan Praktik Klinis (PPK), Bagian Pengadaan, Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP), Bagian Cathlab, Instalasi Farmasi, Farmasi Cathlab, Klinisi, Kepala Instalasi Penjaminan Klaim, Tim Casemix, Koder serta Verifikator BPJS. Kegiatan ini diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI).

Pernyataan itu didukung Kayun Kasmidi dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan yang menjelaskan Update Regulasi dan Kaidah Koding Kardiovaskular dalam INA-CBG. “Kita akan bawa hasil dari diskusi ini dalam pembahasan penyesuaian sistem INA-CBG, karena memang diperlukan penyesuaian dalam berbagai aspek, termasuk prosedur yang selama ini belum tercakup.”

peserta medverify rsupadam

Kayun juga menegaskan, tujuan akhir pelatihan dan diskusi ini adalah menyusun masukan dan membentuk tim percepatan yang terdiri dari P2JK, PERKI, PERSI, PJN Harapan Kita, dan pemerhati koding guna membantu percepatan Manual koding khusus penyakit Jantung.

Sementara, dr. Nazirah Istianisa, MARS yang mewakili PJN Harapan Kita memaparkan, sistem rekam medis elektronik yang dipraktikkan pihaknya menjadi kunci untuk meminimalisir dispute, termasuk dalam tindakan EVAR dan TEVAR. Rekam medis itu bisa dengan mudah bisa diakses berbagai pihak yang berkepentingan, mulai dokter, petugas koder RS hingga BPJS Kesehatan. Kondisi itu kemudian dipadukan dengan pemetaan atas jenis dan jumlah tindakan serta kelancaran klaim.

“Sehingga dengan begitu kami bisa menargetkan di awal tahun jenis dan jumlah tindakan yang dilakukan, yang juga kami kaitkan dengan kondisi keuangan RS. Kami juga memadukannya dengan sistem subsidi silang serta rekam medis digital. Sejauh ini kami tidak mengalami masalah dalam klaim,” ujar Nazirah.

Kayun menanggapi, strategi menentukan perencanaan jenis dan jumlah tindakan seperti yang ditetapkan PJN Harapan Kita juga dapat diikuti RS lain untuk memastikan kapasitas RS serta melancarkan klaim ke BPJS Kesehatan.

Anggota Kompartemen Jaminan Kesehatan Fajaruddin Sihombing, yang juga berbicara dalam pelatihan itu memaparkan tentang Roadmap Panduan Koding Kardiovaskular. “Pada 2018, prosedur kardiovaskular ringan, sedang, dan berat masuk ke dalam peringkat 10 besar grouping INA CBG’s dengan pembiayaan JKN yang sangat besar. Selain itu, masih banyak prosedur jantung lainnya Prosedur jantung intervensi dan invasive sampai sekarang ini masih menjadi kebutuhan standar medis yang belum secara optimal diakomodir dalam pelayanan sistem JKN,” ujar Fajar.

“Targetnya, panduan manual coding penyakit jantung yang akan menjadi percontohan selesai pada 2021 sehingga semua jenis pelayanan penyakit jantung masuk dalam pembiayaan JKN dan tarifnya realistis,” ujar Fajaruddin(IZN – persi.or.id)