Kisah Kepala IGD RS Daha Husada Terbang ke Bangkok hingga Lembata, Selamatkan Korban Gigitan Ular Langka

tri maharani 2

tri maharani 2

Merespon cepat aduan sejawatnya tentang pasien anak korban gigitan ular di Nusa Tenggara Timur (NTT), nekat terbang langsung ke Bangkok, Thailand untuk mendapatkan antibisa atau antivenom yang diantar langsung ke bandara berkat kolaborasi dari para pakar di sana, hingga mengadakan pelatihan penananganan gigitan ular.

Itulah rangkaian kisah dr Tri Maharani, Kepala IGD RS Daha Husada Kediri Jawa Timur, yang dikenal sebagai ahli antivenom di negeri ini. Ceritanya juga mencerminkan kolaborasi antar tenaga dokter serta pihak RS serta tentunya pentingnya antisipasi Indonesia terhadap ketersediaan antivenom.

“Saya tidak punya dana sama sekali, tetapi saya nekat berangkat ke Bangkok untuk membeli antivenom monovalen daboia ruseli siamensis. Keberangkatan ke Bangkok atas bantuan drg Siska, mantan Wakil Yanmed RS Gunungjati Cirebon, dr Meilia Silvalila Kepala Igd RS Zainal Abidin Axeh dan Evy Arbiaty,” ujarnya tentang perjuangan menyelamatkan Martinus (12), korban gigitan ular sangat berbisa di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelum berangkat ke Bangkok, ia berkonsultasi terlebih dahulu dengan pakar di Thailand drh. Taksa Vasaparuchong. “Saya berangkat ke Bangkok dan antivenom diantar ke bandara oleh drh Taksa, karena beliau memahami kasusnya darurat sekali,” ujar Tri.

tri maharani 1

Martinus dilaporkan digigit ular sangat berbisa pada kakinya saat sedang mengembalakan ternak sapi di Lembata pada 14 Januari 2020 lalu. Akibatnya, Martinus terus mengalami pendarahan terus dari mulut, hidung, dan mengalami kegagalan nafas.

Kisah martinus kemudian sampai ke Tri pada 14 Januari 2020, lewat telepon dr Natalia, dr Ita dan dr Vieena, dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang bertugas di Kabupaten Lembata. “Mereka melaporkan bahwa ada pasien gigitan ular dalam kondisi buruk sekali, dengan kesadaran yang sangat jelek. pasien harus di ventilator pada bedah dan anestesi. Para dokter sudah berusaha menolong korban, hanya mereka tidak tahu jenis ular apa, tetapi oleh warga setempat disebut digigit ular keramat.”

Tri, ahli toksikologi satu satunya di Indonesia, mengetahui jenis ular tersebut, jenis daboia ruselli simanensis yang memang langka, golongan viperia ruselli dan hanya hidup di beberapa wilayah di Indonesia.  Sifat toksinnya hematotoxin myotoxin renal toxicity, serta neurotoxin. “Menurut riset seorang ahli dari Malaysia, dr Tan, jenis ular ini langka karena hanya hidup dan berkembang di beberapa tempat. Di pulau Jawa misalnya, hanya ada di Gresik, Surabaya, Jawa Timur dan beberapa tempat di Pulau Flores.”

Tri juga mengutip buku Smith 1917, karya Eastern Russell, 's wilayah-wilayah yang menjadi tempat hidup jenis ular sangat berbisa di Pulau Flores adalah Komodo (Loh Liang, Komodo, Loh Lavi, Long Liang Mount Puaki) dan Pulau Rinca. Selain terdapat di Flores (Bajawa, Danga, Ende Bay, Mbai Labuan Bajo Mbomba, Nangaroro, Ndao Riung) dan Ende. Jenis ular sangat berbisa ini juga diketahui hidup di Pulau Solor dan Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Tri Maharani

Kasus serupa, kata Tri, juga sempat terjadi pada 2019, di Tulungagung pada satu pasien, dan dua tahun lalu di Semarang. Namun tidak
terkonfirmasi karena dua-duanya meninggal dunia.

“Untuk mengobati pasien yang terkena gigitan ular jenis ini, obatnya adalah antivenom monovalen daboia ruseli siamensis. Jenis obat ini, hanya diproduksi dan dijual di Thailand oleh QSMI Taiwan dan Myanmar. Untungnya, setelah menerima telpon, saya langsung mengejarnya karena saya tahu betapa berat toksinnya. Antivenom Sabu Biosave Indonesia tidak bisa dipakai untuk jenis racun ular seperti ini.”

Tri hanya beberapa jam saja berada di Bangkok, lalu terbang lagi kembali ke Jakarta, selanjutnya ke Surabaya, berlanjut ke Kupang dan Lembata. Di Kupang, ia tidur dan beralaskan lantai di Bandara El Tari Kupang untuk menunggu penerbangan pada keesokan harinya ke Lembata, karena keterbatasan dana.

Dana bantuan dari beberapa rekan yang ia peroleh hanya cukup untuk membeli sembilan vial antivenom, enam daboia monivalen dan tiga green pit viper monovalen.

Setelah tiba di Lembata, Tri Maharani segera menuju rumah sakit dan langsung memberikan antivenom itu dua butir kepada pasien. “Saat itu, kondisi pasien sangat jelek. Creatinin 7,4 dan uerum 408 sebagai tanda pasien gagal ginjal akut, dan lekosit sangat tinggi 16.000-an, tanda neurotoxin masih kuat. Saya memang tiba di Lembata sudah pada hari ke-5, tetapi karena masih ada tanda pendarahan dan tanda envenomation, maka pasien tetap diberikan antivenom.”

dr tri maharani

Setelah pasien diberikan antivenom, Tri bersama petugas medis menunggu semalaman di RS, untuk mengikuti perkembangan pasien. Besok paginya, pasien sudah mulai berangsur-angsur membaik, pendarahan profuse berkurang dan creatinin, serta ureum turun drastis menjadi 5,5 dan 300-an.

“Saya dan tim dokter RS Lembata bahagia sekali. Melihat perkembangan pasien yang mulai membaik, kami memutuskan untuk menambah dosis untuk diberikan kepada pasien. Kami masih tambah dosis ke dua. Saya berikan dua vial lagi kepada pasien.”

“Saat ini, pasien sudah pulih penuh, pendarahan sudah berhenti, dan creatinin serta ureum sangat turun menuju normal. “Setelah kasus ini, perlu disiapkan antibisa ular langka di Labuan Bajo, Ende dan Lembata karena jenis ular ini sangat ganas tioxin-nya.””

Sebelum kembali ke Surabaya, Tri mengumpulkan seluruh tenaga medis di Lembata bersama Direktur RS Lembata dan Kadinkes Lembata, untuk mengadakan pelatihan penanganan gigitan ular di RS Lembata. Pelatihan dihadiri 150-an tenaga medis. (IZn-persi.or.id)