Ketua PERSI NTT: Tidak Ada RS Yang Meng-Covid-kan Pasien Tanpa Bukti

Keluarga pasien kerap menuntut pihak rumah sakit agar mengeluarkan hasil swab PCR pemeriksaan COVID-9 di saat itu juga, padahal fasilitas pemeriksaan terbatas hanya ada di RSUD Johannes Kupang sehingga kepastian status menunggu dalam waktu tertentu. Kondisi itu kerap memicu konflik antara keluarga pasien dengan pihak rumah sakit ketika pasien yang meninggal itu dinyatakan probable COVID-19, berdasarkan pemeriksaan penunjang seperti swab antigen, antibodi, maupun PCR.

“Kami sangat kesulitan terutama ketika ada pasien yang meninggal mendadak, misalnya ketika datang hanya beberapa jam ditangani di UGD, kemudian meninggal dan dinyatakan probable COVID-19. Sehingga, kami meminta warga agar memahami kesulitan yang dihadapi rumah sakit dalam menangani jenazah pasien yang dinyatakan meninggal karena COVID-19,” ujar Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Nusa Tenggara Timur dr Yudith Margaretha Kota dalam diskusi bertema Standar Pelayanan Jenazah Pasien COVID-19 di Nusa Tenggara Timur dalam diskusi virtual yang digelar Ombudsman RI Perwakilan NTT, hari ini, Senin, 1 Februari 2021.

Kesalahpahaman itu, kata Yudith, kerap memicu keluarga pasien datang dalam jumlah banyak dan
memaksa harus membawa pulang jenazah padahal jenazah dinyatakan probable COVID-19. “Kondisi ini tentu berbeda dengan penanganan jenazah pasien COVID-19 yang sebelumnya sudah dirawat di rumah sakit. Pihak rumah sakit maupun dokter yang merawat pasien memiliki kesempatan untuk mengedukasi pihak keluarga bahwa kemungkinan pasien akan meninggal dan harus dimakamkan sesuai protokol pemakaman pasien COVID-19. Biasanya keluarga juga menerima, namun yang meninggal mendadak itu yang kami kesulitan apalagi keluarga datang dengan emosional tinggi.”

“Kami pun tidak ada yang sengaja meng-COVID-kan pasien, dalam menangani jenazah pasien yang dinyatakan probable COVID-19, rumah sakit harus menerapkan prinsip praduga bersalah agar tidak ada peluang menularkan para tenaga medis, pengurus jenazah, anggota keluarga, dan masyarakat,” lanjut Yudith.

Kondisi itu kian menyulitkan pihak rumah sakit ketika Satgas COVID-19 yang mengurus pemakaman tidak segera datang untuk membawa jenazah karena mereka terbatas sementara mereka harus mengurus jenazah pada beberapa rumah sakit. (IZn – persi.or.id)