Kejar Kebutuhan Spesialis Jantung, Sistem Pendidikan Ditambah Sistem Hospital Based

Guna mengatasi kebutuhan kuantitas serta kualitas dokter spesialis jantung, terutama di RS-RS daerah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan 3 upaya. Pertama, meningkatkan jumlah prodi Fakultas Kedokteran (FK) yang saat ini masih jauh dari harapan. Dari 92 FK di Indonesia, hanya ada 20 FK yang memiliki prodi pelayanan jantung, sementara yang bisa melakukan spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular (BTKV) hanya 2 prodi.

“Kami bekerjasama dengan Kemendikbud akan mengejar pemenuhan kebutuhan. Kita ada hitung-hitungannya, dari 188 spesialis, yang praktik hanya 42 orang. Jumlah ini tentu tidak cukup untuk melayani 270 juta masyarakat Indonesia,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Strategi kedua, kata Budi, membuka fellowship bekerjasama dengan kolegium dan organisasi profesi. Fellowship dibuka yang seluas-luasnya untuk melatih mereka supaya bisa memasang ring maupun pelayanan jantung lainnya.

“Untuk mengejar kebutuhan sebenarnya butuh puluhan tahun, sehingga supaya cepat, salah satunya melalui fellowship. Semua rumah sakit harus membuka fellowship dan itu perlu bantuan dari kolegium dan organisasi profesi, supaya ini bisa segera dibuka,” kata Menkes.

Untuk itu, Kemenkes telah berkomitmen menambah kuota beasiswa di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebelumnya, beasiswa dokter dan spesialis 200-300, kini ditambah menjadi 1.500 beasiswa per tahun.

Ketiga, mendorong pendidikan dokter berbasis RS atau hospital based dengan menambah sistem pendidikan dokter spesialis yang semula baru university based.

“University based dan hospital based . Dua-duanya kita dorong demi mempercepat. Begitu nanti jadi hospital based, dokter spesialis yang ambil PPDS kita bayar,” kata Budi Gunadi.

Ketiga stretegi ini, kata Budi Gunadi, diharapkan didukung pihak terkait agar produksi tenaga kesehatan penyakit jantung semakin baik, berkualitas dan merata.

“Bukan untuk organisasi ataupun diri kita sendiri, tetapi untuk masyarakat, menyelamatkan lebih banyak lagi nyawa masyarakat Indonesia.” (IZn – persi.or.id)