Implementasi Platform SATUSEHAT Berlaku Penuh Pada 2023, Data Kesehatan Akan Terintegrasi Antar Fasyankes

Upaya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menghadirkan platform SATUSEHAT yang menyediakan dan merekam data kesehatan setiap individu masyarakat mulai lahir hingga meninggal dunia, termasuk rekam medik elektronik (RME), terus bergulir.

SATUSEHAT merupakan platform yang mengintegrasikan data kesehatan individu antar fasyankes dalam bentuk rekam medis elektronik (RME) guna mendukung interoperabilitas data kesehatan melalui standardisasi dan digitalisasi.

Pada 1 hingga 3 November lalu diselenggarakan uji coba dan pendampingan integrasi SATUSEHAT dengan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Pulau Jawa-Bali. Kali ini menyasar Jawa Barat yaitu 804 sistem informasi di fasyankes, yang terdiri dari 762 puskesmas dan 42 rumah sakit yang siap terintegrasi ke SATUSEHAT.

“Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah terfragmentasinya data kesehatan di berbagai aplikasi serta tidak seragamnya metadata pada sistem informasi di fasyankes. Oleh karenanya, SATUSEHAT menjadi solusi untuk menghadirkan standar format interoperabilitas sehingga data kesehatan pada sistem informasi fasyankes dapat saling interoperable dan terintegrasi,” kata Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemenkes, Tiomaida Seviana.

Tiomaida menjelaskan, melalui SATUSEHAT, data informasi kunjungan hingga diagnosis pasien pada Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS) dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang tercatat secara elektronik melalui RME dapat dipertukarkan antar fasyankes yang terintegrasi atas izin pemilik data. Pada uji coba integrasi, para peserta diberikan pendampingan terkait cara mengirimkan data RME ke dalam platform SATUSEHAT. Data tersebutlah yang nantinya dapat dimanfaatkan fasyankes terintegrasi untuk mendapatkan referensi informasi kondisi kesehatan pasien.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi berharap, dengan terintegrasinya SIMPUS dan SIMRS di Jawa Barat ke dalam platform SATUSEHAT dapat meningkatkan efektivitas kerja para tenaga kesehatan (nakes) di fasyankes.

“Selama ini para nakes harus melakukan pelaporan di banyak aplikasi. Saya berharap dengan adanya platform SATUSEHAT ini rekan-rekan nakes bisa lebih fokus dalam melayani pasien,” kata Vini.

Pada platform SATUSEHAT, nakes cukup menginput data pada satu sistem utama milik masing-masing fasyankes, yang kemudian akan terintegrasi secara otomatis dengan sistem informasi kesehatan lainnya melalui platform SATUSEHAAT.

Bagi para Tenaga Pengembang Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) Kota Bandung, kegiatan pendampingan ini telah membantu memahami dan mempercepat penerapan SATUSEHAT mulai dari proses pengenalan katalog hingga uji coba langsung.

Rangkaian kegiatan ini didukung Country Health Information Systems and Data Use (CHISU) USAID bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan dinkes Provinsi/Kabupaten/Kota terkait. Hingga diselenggarakan uji coba SATUSEHAT kali ini, ada total 7.363 fasyankes di pulau Jawa yang siap terintegrasi.

Setelah diselenggarakan di Provinsi Jawa Barat, uji coba selanjutnya juga akan dilaksanakan di Bali. Kemenkes menargetkan 12.000 fasyankes di Pulau Jawa-Bali akan terintegrasi dengan SATUSEHAT pada tahun ini, dan seluruh fasyankes pada 2023 mendatang. (IZn – persi.or.id)