Dirut RSUP M. Djamil: Med Verify Berkontribusi Cegah RS Terbelit Dispute

roadshow persi rsupdjamil01

Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP),Dr. M. Djamil, Padang Sumatera Barat (Sumbar), Dr. dr. Yusirwan Yusuf, Sp. B, Sp. BA (K), Mars yang juga Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Sumbar mengungkapkan Pelatihan Manual Koding Klaim INA-CBGs Penyakit Jantung atau Med Verify akan mengatasi masalah dispute antara pihak rumah sakit (RS) dengan BPJS Kesehatan yang di wilayahnya telah menimbulkan PHK pada ratusan pegawai, termasuk tenaga medis. Dispute terkait penanganan penyakit jantung itu kemudian berakhir dengan pemutusan kerja sama oleh BPJS Kesehatan sehingga mengakibatkan dua RS di Sumbar itu mengalami guncangan hebat sehingga terpaksa melakukan PHK.

“RS-RS di Sumbar telah menyelenggarakan layanan jantung yang cukup baik dengan memiliki cath lab dan sebagainya, namun karena masalah koding dan grouping klaim ini akhirnya mengalami masalah. Sehingga kegiatan seperti ini sangat penting dilakukan, termasuk kaitannya dengan tindakan Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEVAR) dan Endovascular Aneurysm Repair (EVAR), “ujar Yusirwan dalam dalam Med Verify ketiga, hari ini Selasa (9/9).

dr. Nazirah Istianisa, MARS yang mewakili Pusat Jantung Nasional Harapan Kita yang memaparkan praktik yang dilakukan pihaknya terkait tindakan jantung, termasuk TEVAR dan EVAR, melakukan analisis pada data. Menggunakan big data pada jenis, biaya, indikasi serta keterangan lainnya, PJN kemudian mengalokasikan jumlah dan jenis tindakan yang dapat dilakukan setiap tahunnya.

“Karena kedua jenis tindakan ini selain merupakan pelayanan kita kepada masyarakat namun juga penting dilakukan kita merupakan institusi pendidikan dan menjaga keterampilan para dokter kita, “ujar Nazirah.

roadshow persi rsupdjamil

Pernyataan serupa juga diungkapkan dr. R. Suhartono, Sp.B-KV dari RSCM. Ia menyatakan pihaknya melakukan dua prosedur tersebut sesuai indikasi medis dan sejauh ini dengan dukungan keterampilan petugas koding, klaim bisa dilakukan.” Tentunya idealnya kegiatan ini juga bisa dilakukan RS-RS tipe ANDA lainnya, ” ujar Suhartono.

Kayun Kasmidi dari Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan menjelaskan tindakan EVAR dan TEVAR memang belum masuk sistem koding BPJS Kesehatan dan harus dilakukan manual, sehingga selama ini kerap dihindari sebagian RS untuk menghindari dispute klaim.

“Sehingga kita akan bawa hasil dari diskusi ini dalam pembahasan penyesuaian sistem INA-CBG, karena memang diperlukan penyesuaian dalam berbagai aspek, termasuk prosedur yang selama ini belum termasuk, “ujar Kayu.

Kayun juga menegaskan, tujuan akhir pelatihan dan diskusi ini adalah menyusun masukan dan membentuk tim percepatan yang terdiri dari P2JK, PERKI, PERSI, PJN Harapan Kita, dan pemerhati koding guna membantu percepatan Manual koding khusus penyakit Jantung.

Nazirah menambahkan, sistem rekam medis elektronik yang dipraktikkan pihaknya menjadi kunci untuk meminimalisir dispute, termasuk dalam tindakan EVAR dan TEVAR. Rekam medis itu bisa dengan mudah bisa diakses berbagai pihak yang berkepentingan, mulai dokter, petugas koder RS hingga BPJS Kesehatan. Kondisi itu kemudian dipadukan dengan pemetaan atas jenis dan jumlah tindakan serta kelancaran klaim.

“Sehingga dengan begitu memudahkan pengumpulan big data sehingga kami bisa menargetkan di awal tahun jenis dan jumlah tindakan yang dilakukan, yang juga kami kaitkan dengan kondisi keuangan RS. Kami juga memadukannya dengan sistem subsidi silang serta rekam medis digital. Sejauh ini kami tidak mengalami masalah dalam klaim,” ujar Nazirah.

Kayun menanggapi, strategi menentukan perencanaan jenis dan jumlah tindakan seperti yang ditetapkan PJN Harapan Kita juga dapat diikuti RS lain untuk memastikan kapasitas RS serta melancarkan klaim ke BPJS Kesehatan.

Anggota Kompartemen Jaminan Kesehatan Fajaruddin Sihombing, yang juga berbicara dalam pelatihan itu memaparkan tentang Roadmap Panduan Koding Kardiovaskular. “Pada 2018, prosedur kardiovaskular ringan, sedang, dan berat masuk ke dalam peringkat 10 besar grouping INA CBG’s dengan pembiayaan JKN yang sangat besar. Selain itu, masih banyak prosedur jantung lainnya Prosedur jantung intervensi dan invasive sampai sekarang ini masih menjadi kebutuhan standar medis yang belum secara optimal diakomodir dalam pelayanan sistem JKN,” ujar Fajar.

“Targetnya, panduan manual coding penyakit jantung yang akan menjadi percontohan selesai pada 2021 sehingga semua jenis pelayanan penyakit jantung masuk dalam pembiayaan JKN dan tarifnya realistis,” ujar Fajar.

Med Verify yang menjadi bagian dari 14 pelatihan di RS seluruh Indonesia kali ini diselenggarakan RSUP M. Djamil sebagai tuan rumah. Pelatihan diikuti peserta dari yang terdiri atas direktur RS, Komite Medis, Kepala Panduan Praktik Klinis (PPK), Bagian Pengadaan, Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP), Bagian Cathlab, Instalasi Farmasi, Farmasi Cathlab, Klinisi, Kepala Instalasi Penjaminan Klaim, Tim Casemix, Koder serta Verifikator BPJS. Kegiatan ini diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) berkolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia (PERKI). (IZN – persi.or.id)