Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika IHC Dr.dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV (K), MPH

Makin Digital, RS Kian Efisien dan Bertumbuh
Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika IHC Dr.dr. Fathema Djan Rachmat, Sp.B, Sp.BTKV (K), MPH, sukses melakukan serangkaian inovasi manajemen perumahsakitan. Saat memimpin RS Pelni, ia sukses mencatat surplus ketika bermitra dengan BPJS Kesehatan. Sebanyak 80% pasien yang dilayani adalah anggota BPJS Kesehatan. Salah satu kuncinya, penerapan digitalisasi, yang dikembangkan oleh tim internal RS Pelni secara komprehensif.

Ketika Fathema dipercaya menjadi Direktur Utama PT Pertamina Bina Medika IHC, digitalisasi pula yang ia terapkan sebagai terobosan dalam menghadapi pandemi covid-19, . Digitalisasi mengurangi risiko penularan pada tenaga medis sekaligus meningkatkan kualitas layanan. Fathema membagi pengalamannya pada kalangan perumahsakitan pada Webinar Akselerasi Transformasi Digital Layanan Kesehatan dan Rumah Sakit, Kamis, 25 Juni 2020 yang diselenggarakan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

Fathema Djan Rachmat adalah lulusan Program pendidikan Doktor, Program Studi Ilmu Kedokteran (S3) FKUI tahun 2011 dan Program Pendidikan Manajemen Rumah Sakit (S2) Universitas Gadjah Mada tahun 2015. Dokter bedah jantung itu merintis karir memimpin manajemen rumah sakit saat mengelola unit di Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) berlanjut membangun cardiac center pertama di RSCM, sebelumnya baru ada di RS Harapan Kita.

“Indonesia seharusnya punya banyak center, seperti Malaysia. Saya kemudian memulai satu center dan berkembang sampai sekarang, hingga akhirnya saya terjun untuk mengurus manajemen rumah sakit,” ujar Fathema.

Fathema optimistis industri kesehatan sedang berkembang, terutama asuk dengan dukungan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun, di saat yang sama, RS menghadapi tantangan, mengelola sistem tarif JKN agar tetap memberikan layanan yang terbaik dan di saat yang sama menekan biaya operasional.

“RS yang melakukan continous improvement bisa terus melakukan efisiensi, salah satunya dengan digitalisasi.”

Terkait penanganan Covid-19, Fathema berkisah pada Februari 2020 pihaknya mengadakan Medical Forum Indonesia Healthcare Corporation dengan mengundang para pakar terkait bagaimana penanganan Covid-19. Hasilnya ketika Maret Indonesia ada kasus, IHC sudah menyiapkan diri minimal aspek pengetahuan dan keterampilan, termasuk penggunaan APD.

“Saat ini, ada ada 73 RS yang tergabung dalam IHC, dari Aceh sampai Papua, termasuk dua RS pendidikan, yaitu RS Universitas Indonesia dan RS Ukrida. Pada waktu itu, kami telah mengambil kebijakan tentang konversi tempat sebesar 40-50 persen tidur untuk alokasi penanganan pasien Covid-19.”

IHC membagi klasifikasi RS tergantung dengan jumlah yang terpapar/tingkat infeksi di daerah masing-masing, zona merah rata-rata konversi tempat tidur untuk pasien Covid-19 mencapai 50% dan penambahan ICU 25% dari ruang yang terkonversi. Sementara, RS berkategori hijau mengkonversi tempat tidur sebanyak 25% dengan penambahan ICU 10-15%.

Jumlah ruangan khusus Covud-19 juga bertambah terus, total RS BUMN memiliki lebih dari 7 ribu tempat tidur dan telah dikonversi lebih dari 3.500 tempat tidur untuk isolasi atau perawatan COVID-19.
Terkait ICU, ada 512, sudah termasuk penambahan 50 bed ICU di RSPP Simprug. IHC pun telah melakukan hampir 1 juta tes sejak April 2020.

“Kami berusaha untuk tidak ada pasien yang ditolak ketika datang ke RS. Caranya dengan memastikan aliran layanan lancar dari IGD, masuk rawat isolasi atau ICU hingga pulang. Kemudian jika ada yang penuh juga bisa kami carikan ke jaringan rumah sakit yang lainnya sehingga aliran layanan terkontrol. Kami juga bekerjasama dengan RS swasta. Antsipasi ini dilakukan karena Bed Occupancy Rate (BOR) selalu di angka 80-90%.

Pada Webinar PERSI, Fathema memaparkan topik Akselerasi Transformasi Digital Layanan Kesehatan dan Rumah Sakit. Ia menjelaskan salah satu elemen penting yang diterapkan ketika ia kini memimpin 70 RS BUMN adalah implementasi teknologi sebagai driver atau pendorong upaya pengembangan. “Kami harus memulainya dengan membangun database sebagai bahan agar kita bisa melakukan berbagai pengembangan, salah satunya precise treatment. Kami juga menerapkan pengembangan teknologi baik di front end maupun back end untuk seluruh RS yang dikelola,” ujar Fathema.

Teknologi pula, lanjut Fathema, yang menjadi andalan pihaknya mengoperasikan RS Modular Darurat Covid-19 dengan kapasitas 300 tempat tidur di Simprug, Jakarta Selatan. “Teknologi yang kami bangun berkolaborasi dengan Cisco ini memungkinkan kami mengurangi kontak dan penularan namun di saat yang sama juga memberikan pelayanan terbaik pada pasien Covid-19,” ujar Fathema. (IZn – persi.or.id)