COVID-19 Picu Kasus Gangguan Mental Hingga 2 Kali Lipat

COVID-19 memberikan dampak pada kesehatan jiwa masyarakat, kasus gangguan mental neurologis juga penggunaan zat meningkat 1 sampai 2 kali lipat dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Kelompok yang terpapar pun berbeda-beda.

”Kondisi pandemi memperparah ataupun semakin mempengaruhi kesehatan jiwa,” kata Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan drg. Vensya Sitohang pada konferensi pers di Hotel Conrad, Bali, Jumat (13/5).

Psikiater Dr. dr. Hervita Diatri, Sp.KJ (K) memaparkan, kelompok orang yang terpapar itu berbeda-beda dan mendapat penatalaksanaan berbeda pula. Kasus gangguan jiwa harus diwaspadai terkiat korelasinya dengan risiko bunuh diri. “Di 5 bulan awal pandemi COVID-19, survei mengatakan bahwa 1 dari 5 orang di Indonesia usia 15 sampai 29 tahun terpikir untuk mengakhiri hidup. Selanjutnya 1 tahun pasca pandemi oleh survei yang berbeda didapatkan data 2 dari 5 orang memikirkan bunuh diri. Sekarang di tahun awal 2022, 1 dari 2 orang yang memikirkan mengakhiri hidup,” kata dr. Hervita.

Hervita menjelaskan empat jenis penderita gangguan jiwa

  • Mereka yang sebelumnya normal atau tidak ada masalah kesehatan jiwa, kemudian memiliki masalah sampai mengalami gangguan jiwa.
  • Mereka yang sejak awal sudah mengalami masalah kesehatan jiwa, misalnya mereka sebelumnya sudah mengalami kekerasan di rumah tangga. Kondisi mereka sudah rentan sehingga risiko masalah gangguan jiwa lebih besar.
  • Mereka sebelumnya sudah memiliki masalah kesehatan fisik dan sulit untuk mengakses layanan kesehatan, sehingga sangat wajar kalau merasa cemas karena penyakitnya tambah berat, demikian juga penderita gangguan jiwa.
  • Kelompok yang ditemukan di Juli 2021 pada gelombang kedua pandemi, ketika masalah oksigen langka sehingga para penderita COVID-19 mengalami gangguan asupan oksigen ke otak sehingga menyebabkan gangguan jiwa menetap.

drg. Vensya Sitohang menjelaskan sejalan dengan komitmen global untuk mengatasi masalah kesehatan mental, ASEAN plus Three Leader (Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Korea) mengakui bahwa promosi kesehatan mental diidentifikasi sebagai salah satu prioritas kesehatan di bawah agenda pembangunan kesehatan ASEAN pasca 2015.

“Promosi itu dilakukan antara lain dengan berbagai model dan praktek efektif tentang program dan intervensi kesehatan mental diantara negara anggota ASEAN, dan peningkatan integrasi program kesehatan mental di tingkat primer dan sekunder. Pandemi juga berdampak pada kesehatan mental rangkaian acara 15th ASEAN Health Ministers Meeting ini menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat ASEAN terhadap kesehatan jiwa,” ucapnya. (IZn – persi.or.id)