Bethsaida Hospital Gelar Webinar Caring For Elderly During Pandemic, Hadirkan Kuliah Umum DNR

Memperingati ulang tahunnya yang ke-9, Bethsaida Hospital di Gading Serpong, Tangerang, Banten mengadakan rangkaian Webinar berjudul Caring For Elderly During Pandemic pada 4 dan 5 Desember 2021. Sebanyak 8 narasumber, para dokter yang berpraktik di RS tersebut dihadirkan, juga Kuliah Umum yang diberikan dr. Ernest Eugene Lie Gultom, MKM berjudul Kapan dan Bagaimana DNR Berlaku.

Pada Kuliah Umum yang berlangsung pada hari pertama itu, Ernest membahas tentang DNR atau Do Not Resuscitate yang sangat terkait dengan pelaksanaan perawatan pada lansia. “DNR adalah suatu perintah yang memberitahukan tenaga medis untuk tidak melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau RJP (resusitasi jantung paru), upaya pertolongan medis untuk mengembalikan kemampuan bernapas dan sirkulasi darah dalam tubuh. Hal ini berarti bahwa dokter, perawat, dan tenaga emergensi medis tidak akan melakukan usaha CPR emergensi bila pernapasan maupun jantung pasien berhenti,” kata Ernest.

Ernest menyatakan, RS Bethsaida dan fasilitas layanan kesehatan lainnya yang merawat lansia, berpatokan pada Permenkes 37/2004 tentang Penentuan Kematian dan Pemanfaatan Organ Donor. Pasal 1 menyebutkan, Penghentian terapi bantuan hidup (with-drawing life supports) adalah menghentikan sebagian atau semua terapi bantuan hidup yang sudah diberikan pada pasien. Selanjutnya, disebutkan Penundaan terapi bantuan hidup (with-holding life supports) adalah menunda pemberian terapi bantuan hidup baru atau lanjutan tanpa menghentikan terapi bantuan hidup yang sedang berjalan.

Sedangkan pasal 14 menyebutkan, pada pasien yang berada dalam keadaan yang tidak dapat disembuhkan akibat penyakit yang dideritanya (terminal state) dan tindakan kedokteran sudah sia-sia (futile) dapat dilakukan penghentian atau penundaan terapi bantuan hidup. Kebijakan mengenai kriteria keadaan pasien yang terminal state dan tindakan kedokteran yang sudah sia-sia (futile) ditetapkan oleh Direktur atau Kepala Rumah Sakit.

Disebutkan pula, keputusan untuk menghentikan atau menunda terapi bantuan hidup tindakan kedokteran terhadap pasien dilakukan oleh tim dokter yang menangani pasien setelah berkonsultasi dengan tim dokter yang ditunjuk oleh Komite Medik atau Komite Etik. Selain ituRencana tindakan penghentian atau penundaan terapi bantuan hidup harus diinformasikan dan memperoleh persetujuan dari keluarga pasien atau yang mewakili pasien.

“Implementasinya, keluarga pasien dapat meminta dokter untuk melakukan penghentian atau penundaan terapi bantuan hidup atau meminta menilai keadaan pasien untuk penghentian atau penundaan terapi bantuan hidup. Permintaan keluarga pasien hanya dapat dilakukan dalam hal pasien yang tidak kompeten dan belum berwasiat, namun keluarga pasien yakin bahwa seandainya pasien kompeten akan memutuskan seperti itu, berdasarkan kepercayaannya dan nilai-nilai yang dianutnya,” kata Ernest.

Sementara, pada pasien yang tidak kompeten tetapi telah mewasiatkan pesannya tentang hal ini (advanced directive) yang dapat berupa: pertama pesan spesifik yang menyatakan agar dilakukan penghentian atau penundaan terapi bantuan hidup apabila mencapai keadaan futility (kesia-siaan). Kedua, pesan yang menyatakan agar keputusan didelegasikan kepada seseorang tertentu (surrogate decision maker).

“Sangat penting dipahami, rencana tindakan penghentian atau penundaan terapi bantuan hidup harus diinformasikan dan memperoleh persetujuan dari keluarga pasien atau yang mewakili pasien.”

Aspek yang tak kalah pentingnya, kata Ernest, terapi bantuan hidup yang dapat dihentikan atau ditunda hanya tindakan yang bersifat terapeutik dan / atau perawatan yang bersifat luar biasa (extra-ordinary), meliputi: Rawat di Intensive Care Unit, Resusitasi Jantung Paru, Pengendalian disritmia, Intubasi trakeal, Ventilasi mekanis, Obat vasoaktif, Nutrisi parenteral, Organ artifisial, Transplantasi, Transfusi darah, Monitoring invasif, Antibiotika dan Tindakan lain yang ditetapkan dalam standar pelayanan kedokteran.

“Perlu diperhatikan, terapi bantuan hidup yang tidak dapat dihentikan atau ditunda meliputi oksigen, nutrisi enteral dan cairan kristaloid.”

Ernest menegaskan, sinergisitas yang dari Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), Permenkes dan SNARS menegaskan bahwa dalam pernyataan mengenai DNR haruslah didahului dengan DPJP memberikan penjelasan yang holistik untuk membangun pola pikir yang tepat bagi pasien/keluarga pasien untuk memutuskan.

“Dalam penjelasan serta keputusan tersebut bersifat wajib adanya dokumentasi yang diperlukan sebagai bukti pemahaman dan persetujuan serta risiko tanggung gugat.” (IZn – persi.or.id)