Bedah Buku Patient Safety: Harga Mati! Kupas Pentingnya Pelaporan Insiden oleh RS

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dan Institut Keselamatan Pasien Rumah Sakit (IKPRS) menggelar Bedah Buku Patient Safety: Harga Mati! Kajian, Sejarah, dan Panduan bagi Manajemen Rumah Sakit dan Tenaga Kesehatan pada Sabtu, 9 Oktober 2021.

Acara virtual yang diikuti sedikitnya 1.338 peserta itu dibuka Ketua Umum PERSI Dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes. Kuntjoro yang menyatakan penerbitan buku yang dikawal PERSI dan IKPRS itu diharapkan bisa mendukung proses pembelajaran tentang keselamatan pasien bagi kalangan akademisi, perumahsakitan, juga publik.

“Kami juga terus dalam proses mengajukan 16 Agustus sebagai Hari Keselamatan Pasien Nasional,” ujar Kuntjoro dalam acara yang dipandu anggota IKPRS DR. Rokiah Kusumapradja, SKM, MHA.

Penulis Buku yang juga Ketua IKPRS Dr. Nico A. Lumenta, K.Nefro, MM, MH.Kes., FISQua menyatakan sejak tiga tahun dirinya diminta Kuntjoro untuk menyusun buku sebagai referensi pembelajaran dan kajian keselamatan pasien dalam Bahasa Indonesia mengingat hingga saat ini para akademisi dan praktisi masih menggunakan buku dari luar negeri.

“Setiap tahun Pak Ketua menanyakan sehingga kami memutuskan untuk menyusun buku ini sebagai kajian, dokumentasi sejarah serta panduan. Bisa dikatakan, di Indonesia, isu keselamatan pasien ini diinisiasi PERSI serta Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) yang kini menjadi IKPRS. Kami ingin menjadikan buku ini sebagai panduan bagi pimpinan RS, manajemen, tenaga di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes), regulator serta publik,” ujar Nico.

Sementara, pembahas bedah buku, pengajar dan peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Prof. Dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD menegaskan, idealnya isu keselamatan pasien idealnya masuk dalam daftar utama yang dibahas, begitu pula, oleh manajemen RS. “Buku ini bisa juga bisa menjadi buku teks mahasiswa yang berisi konteks Indonesia dan istimewanya bahasa buku ini sangat mengalir, saya yang anak seorang guru Bahasa Indonesia menikmati buku ini,” kata Adi Utarini yang masuk dalam 100 Tokoh Perempuan Paking Berpengaruh di Dunia oleh majalah Time.

Adi Utarini juga mengingatkan, salah satu isu yang diangkat dalam buku Patient Safety, Harga Mati tentang pentingnya RS mencatat insiden yang dialaminya sebagai kajian. Data itu akan menjadi temuan berharga bagi penelitian untuk mengantisipasi kejadian berikutnya.

“Karena medical error adalah public health problem, namun ternyata belum banyak RS yang melaporkan insiden yang dialaminya, ini menjadi PR bersama,” ujar Adi Utarini.

Pembahas berikutnya, mantan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Prof. DR. Dr. Herkutanto, SpF, SH, LLM menyatakan buku ini terbilang ambisus namun sukses memuat kajian mendalam, sejarah dan panduan bagi operator hingga regulator. “Dengan begini, maka Nico Lumenta bisa dinyatakan sebagai begawan patient safety di Indonesia.”

Sebelumnya, Buku Patient Safety, Harga Mati (Kajian, Sejarah dan Panduan bagi Manajemen Rumah Sakit dan Tenaga Kesehatan) diluncurkan pada Sabtu (21/8) secara virtual dihadiri Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Saat itu Kuntjoro Adi Purjanto menyatakan buku ini merupakan sumbangsih yang dipersembahkan bagi kalangan perumahsakitan dan pemangku kepentingan lainnya. “Data WHO menyebutkan, pelayanan kesehatan yang tidak aman merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian dan kecacatan. Di negara-negara berpenghasilan tinggi saja diperkirakan terdapat satu dari setiap 10 pasien yang mendapatkan bahaya saat menerima perawatan di rumah sakit (RS). Secara global, sebanyak empat dari setiap 10 pasien mendapat insiden membahayakan dalam pelayanan kesehatan primer dan rawat jalan,” kata Kuntjoro.

Kabar baiknya, lanjut Kuntjoro, kasus-kasus itu sebenarnya bisa dihindari, karena hingga 80% insiden membahayakan tersebut dapat dicegah. Fakta-fakta itu mendorong WHO untuk mengingatkan semua pihak akan pentingnya budaya keselamatan pasien (patient safety).

Kuntjoro menyatakan buku ini membahas perkembangan patient safety dengan pembahasan yang kronologis, sehingga pembaca bisa memahami mengapa pada tahap tertentu muncul suatu postulat, tetapi segera diperbaiki atau diperkaya setelah ada pengkajian lebih lanjut. “Ini penting untuk meningkatkan pemahaman, terutama karena masalah patient safety bukan pola atau sistem yang harus dipahami kalangan profesional di bidang kesehatan semata, seperti dokter atau perawat, tetapi juga harus dipahami masyarakat yang sedang tidak beruntung harus menyandang status sebagai pasien”, tuturnya.

Sementara Budi Gunadi menyatakan apresiasinya terhadap inisiatif PERSI dan mendorong program keselamatan pasien terus dikembangkan dalam konteks RS lapangan serta bagi pasien yang menjalani pengobatan di rumah. “Supaya hak keselamatan ini bisa didapatkan pasien dalam berbagai kondisi, termasuk dalam situasi pandemi yang kita belum ketahui kapan akan berakhir,” kata Budi Gunadi. (IZn – persi.or.id)