Atasi Resistensi Antimikroba, 20 RS Lakukan Surveilans Antimikroba

Sebanyak 20 rumah sakit (RS) yang terpilih untuk melakukan surveilans antimikroba yang terdiri dari rumah sakit umum pemerintah pusat dan RSUD. Demikian diungkapkan Direktur Mutu dan Akreditasi Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Kalsum Komaryani, MPPM.

Kalsum menyatakan, saat ini kematian akibat resistensi antimikroba mencapai 700 ribu orang per tahun dan diprediksi pada 2050 bisa mencapai 10 juta orang per tahun di seluruh dunia. “Resistensi antimikroba (AMR) jadi ancaman kesehatan masyarakat yang mendesak. Respons berbasis One Health yang berkelanjutan mencakup manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan, sangat penting untuk mengatasi ancaman ini.

“Data kematian akibat AMR menunjukkan, distribusinya diprediksi terbanyak di Asia dan Afrika sekitar 4,7 juta dan Afrika 4,1 juta, sisanya di Australia, Eropa, Amerika,” kata Kalsum pada temu media Pekan Antimikroba Resisten secara virtual, Kamis (18/11).

Kalsum menjelaskan, penyebab AMR ditinjau dari segi kesehatan mulai dari tidak adanya indikasi dalam penggunaan antimikroba, indikasi tidak tepat, pemilihan antimikroba tidak tepat, dan dosis tidak tepat. AMR menimbulkan ancaman kesehatan global yang signifikan bagi populasi di seluruh dunia. Dengan pertumbuhan perdagangan dan perjalanan global, mikroorganisme yang resisten dapat menyebar dengan sangat cepat sehingga tidak ada negara yang aman.

Upaya selanjutnya pengurangan infeksi melalui sanitasi hygiene, optimalisasi pengawasan dan penerapan sanksi jika peredaran dan penggunaan antimikroba tidak sesuai standar, serta peningkatan investasi melalui penemuan obat, metode diagnostic, dan vaksin baru.

“Bahaya resistensi antimikroba berkaitan erat dengan perilaku pencegahan dan pengobatan, sistem keamanan produksi pangan dan lingkungan. Oleh karena itu pendekatan One Health diperlukan untuk mengatasi kompleksitas pengendalian kejadian resistensi antimikroba.”

Dalam perkembangan kesehatan global saat ini, kejadian resistensi antimikroba tidak lagi hanya dilihat sebagai masalah yang berdiri sendiri tetapi juga terkait dengan berbagai sektor seperti kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan (termasuk perikanan dan akuakultur), rantai makanan, pertanian dan sektor lingkungan.

dr. Kalsum menjelaskan strategi pengendalian resistensi antimikroba yang sudah dilakukan di Indonesia adalah dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman resistensi antimikroba, melakukan peningkatan pengetahuan dan bukti ilmiah melalui surveilans. Sektor perikanan dan budidaya pun rentan berisiko terjadi resistensi antimikroba. (IZn – persi.or.id)