Agar Sigap Implementasi Transformasi Digital, RS Diajak Ikut HIMSS22 APAC Health Conference & Exhibition

Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan Setiaji menyatakan, masih terdapat lebih banyak catatan rekam medis kertas dibandingkan digital. Akibatnya, sebagian besar data kesehatan tidak konsisten dan tidak update.

“Pembenahan terhadap sistem rekam medis itu mengemuka saat pandemi Covid-19. Saat itu terlihat permasalahan sistemik yang harus diperbaiki, yaitu peningkatan kapasitas dan resiliensi sistem perlu dilakukan. Pandemi jadi semacam akselerator buat kita. Kami berharap pandemi ini bisa memberikan langkah-langkah percepatan,” ujar Setiaji dalam dalam Simposium Transformasi Digital Indonesia yang diselenggarakan Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS) di Jakarta, Rabu (25/5).

Simposium itu menjadi rangkaian acara HIMSS22 APAC Health Conference & Exhibition yang akan diselenggarakan di Bali pada 27 hingga 28 September 2022 yang juga didukung Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) serta Kementerian Kesehatan.

Setiaji menyatakan, berbagai langkah digitalisasi kesehatan, termasuk pembenahan sistem rekam medis menuju digital, termasuk dalam Cetak Biru Strategi Transformasi Digital Kesehatan 2024. Pihaknya juga bekerjasama dengan HIMSS untuk menyempurnakan regulasi, teknologi, sumber daya manusia, dan infrastruktur sebagai bagian dari program transformasi digital sektor kesehatan.

“Transformasi berfokus pada hasil yang berdasarkan solusi-solusi intelijen pemasaran serta mengutamakan integrasi dan pengembangan aplikasi data dan layanan kesehatan. Upaya ini akan meningkatkan kualitas kebijakan, efisiensi pelayanan serta menciptakan ekosistem yang kolaboratif antara pemerintah pusat, industri, dan masyarakat,” kata Setiaji.

Setiaji juga menyatakan, digitalisasi kesehatan akan memungkinkan masyarakat mengakses layanan telemedisin untuk kondisi medis lainnya secara lebih efisien. Ini didukung sistem big data yang lebih ekstensif berdasarkan identitas kesehatan tunggal.

“Selama pandemi masyarakat telah mendapatkan manfaat layanan telemedisin dari selusin platform online yang memungkinkan pasien berkonsultasi dengan dokter dan menerima obat COVID-19 gratis. Kami pastikan layanan telemedisin akan terus memainkan peranan penting setelah pandemi, sebab para dokter dan pasien telah merasakan kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses dan menerima perawatan dengan aman dari lokasi terpencil sekalipun.”

Mewakili kalangan perumahsakitan, Presiden Direktur Indonesia Healthcare Corporation (IHC) yang juga Steering Committee HIMSS22 APAC Fathema Djan Rachmat menyatakan, saat ini hanya terdapat sekitar 30 orang programer dalam tim IHC. Jumlah itu sangat minim jika dibandingkan enam ribu staf yang mendukung sistem IT di Mayo Clinic Amerika Serikat.

“Ini merupakan salah satu tantangan besar dalam transformasi digital dalam pelayanan kesehatan, yaitu working talent, di mana kita harus menemukan para dokter yang bisa bekerja bersama-sama dengan IT, dan orang-orang IT yang bisa bekerja dengan orang-orang medis,” kata Fathema. (IZn – persi.or.id)

Berita Terkait:
Simposium Transformasi Digital Indonesia: RS Diminta Move On dari Covid-19