7 RS Implementasikan Biomedical & Genome Science Initiative, Riset Pengobatan Presisi 6 Penyakit

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi meluncurkan Biomedical & Genome Science Initiative (BGSi) di Gedung Eijkman RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Minggu (14/8). BGSi merupakan program inisiatif nasional pertama yang dibuat oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin guna mengembangkan pengobatan yang lebih tepat atau presisi bagi masyarakat.

BGSi mengandalkan teknologi pengumpulan informasi genetik (genom) dari manusia maupun patogen seperti virus dan bakteri atau whole genome sequencing (WGS). “Pengembangan WGS sejalan dengan transformasi bioteknologi dalam aktivitas biosurveillance dan layanan kesehatan untuk meningkatkan deteksi patogen dan memperbaiki pengobatan. Sebelumnya, metode WGS telah dimanfaatkan dan berperan penting dalam penanggulangan COVID-19 di Indonesia,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

BGSi dilaksanakan di tujuh rumah sakit vertikal yaitu RSUPN RSCM, RS Pusat Otak Nasional (RS PON), RSPI Sulianto Saroso, RSUP Persahabatan, RS Kanker Dharmais, RSUP Sardjito, hingga RS Prof I.G.N.G. Ngoerah.

Budi Gunadi menekankan, teknologi ini sangat penting untuk kesehatan masyarakat kedepan karena memungkinkan identifikasi sumber penyakit dan cara mengobatinya sangat pasti dan personal. “Contohnya sakit batuk, walaupun gejalanya sama namun di setiap orang, sakitnya bisa berbeda,” lanjut Menkes.

Metode WGS akan dimanfaatkan untuk penelitian pengembangan pengobatan pada enam kategori penyakit utama yaitu kanker, penyakit menular, penyakit otak dan neurodegeneratif, penyakit metabolik, gangguan genetik, dan penuaan. Saat ini hanya terdapat 12 mesin WGS di Indonesia, sehingga untuk mendukung BGSi, Kemenkes menambah 48 mesin yang akan disebar di berbagai RS rujukan nasional yang terlibat. Mesin-mesin sequencing high throughput itu mampu memproses ratusan sampel genom manusia per minggu.

Targetnya, dua tahun kedepan, ada 10 ribu genome sequences manusia yang terkumpul dan diteliti guna pemetaan varian data genome dari populasi penduduk Indonesia yang memiliki tujuh jenis penyakit yang akan diteliti.

Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan yang hadir dalam peluncuran BGSi menyatakan inisiatif ini terus ditingkatkan dan diperluas melalui kerja sama dengan investor teknologi dari negara lain. “Ini merupakan hasil kunjungan kita ke Tiongkok 7 bulan lalu ke Beijing Genomic Institute. Hari ini sudah mulai kita implementasikan di Indonesia. Kerja sama itu pun kita kembangkan dengan Abu Dhabi dengan G42 maupun Amerika Serikat yaitu US Davis University,” kata Luhut.

Sementara, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendi menyatakan, inisiatif futuristik ini diharapkan mempercepat indeks pembangunan manusia kita.

BGSi didukung para donatur, seperti The Global Fund, Panin Bank, Biofarma, dan East Ventures. Sementara kolaborator yang terlibat adalah Illumina, BGI, Oxford Nanopore Technologies, dan Yayasan Satria Budi Dharma Setia. (IZn – persi.or.id)